Catatan Sejarah Black Death

Bencana 'Black Death', Ketika Gerobak-gerobak Penuh Mayat Jadi Pemandangan Umum Setiap Harinya

The Black Death menurut Mark telah mengguncang pribadi masyarakat Eropa secara keseluruhan. Ada yang menganggapnya fenomena supranatural

Bencana 'Black Death', Ketika Gerobak-gerobak Penuh Mayat Jadi Pemandangan Umum Setiap Harinya
IST
Ilustrasi peristiwa Black Death dalam lukisan, kematian massal yang menyapu eropa 

Bencana 'Black Death', Ketika Gerobak-gerobak Penuh Mayat Jadi Pemandangan Umum Setiap Harinya

TRIBUNJOGJA.COM – Awan “kematian hitam” itu bergentayangan menerkam setiap manusia di Eropa, nyaris tak bisa dicegah. Kalangan medis dan cendekia belum memahami apa itu bakteri bacillus.

Meski berusaha mengobatinya, para penolong terkendala lingkungan Eropa abad pertengahan yang sangat kotor. Sanitasi buruk, ditambah musim dingin yang membekukan dalam jangka waktu lama. Gagal panen juga menyumbang masalah sangat serius.

Sebagian penguasa saat itu mencoba mengisolasi atau mengarantina daerah yang tersapu bencana. Namun, dalam suasana panik setiap kali terjadi wabah penyakit, mereka tanpa sadar membawa penyakit itu dan menyebarkannya lebih jauh lagi. Tikus melakukan sisa tugasnya.

Baca artikel sebelumnya :

Catatan Sejarah Black Death, Wabah Maut yang Memicu Kematian Massal Jutaan Nyawa di Eropa

Ada begitu banyak kematian dan begitu banyak tubuh sehingga pihak berwenang tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan mereka. Gerobak-gerobak penuh mayat menjadi pemandangan umum di seluruh Eropa.

Tampaknya satu-satunya tindakan adalah tetap diam, menghindari orang, dan berdoa. Penyakit ini akhirnya terhentikan sejak 1352 M. Muncul lagi bergelombang di akhir abad pertengahan, meski tidak terlalu parah seperti sebelumnya.

Ilustrasi peristiwa Black Death yang diabadikan lewat lukisan
Ilustrasi peristiwa Black Death yang diabadikan lewat lukisan (IST)

Meskipun menyebar tidak terkendali, black death menyapu sejumlah daerah jauh lebih parah daripada yang lain.

Jumlah korban, menurut penulis abad pertengahan dan juga penulis masa modern, sering melebih-lebihkan angkanya.

Ini mempersulit cara untuk secara akurat menilai jumlah total kematian. Kota Milan (Italia), berhasil menghindari dampak yang signifikan. Sementara kota Florence, hancur lebur. Kota itu kehilangan 50.000 dari 85.000 penduduknya.

Halaman
123
Penulis: xna
Editor: mon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved