Pendidikan

Diskusi Yayasan Satunama Bahas Tantangan Pendidikan Zaman Sekarang

anak merdeka ialah sosok citra manusia humanior yang disebut YB Mangunwijaya (Romo Mangun) dengan istilah 'manusia pasca Indonesia dan pasca Einstein

Penulis: Noristera Pawestri | Editor: Ari Nugroho
TRIBUNJOGJA.COM / Noristera Pawestri
Wakil Dekan I FIB UGM, Dr Agus Suwignyo saat menyampaikan paparannya dalam diskusi publik bertajuk 'Anak Merdeka Menurut YB Mangunwijaya' pada Selasa (26/3/2019). 

Laporan Reporter Tribun Jogja Noristera Pawestri

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Dalam rangka memperingati HUT ke-21 tahun, Yayasan Satunama menghadirkan diskusi publik bertajuk 'Anak Merdeka Menurut YB Mangunwijaya' pada Selasa (26/3/2019).

Diskusi ini menghadirkan tiga narasumber yakni Wakil Dekan I FIB UGM, Dr Agus Suwignyo, Yayasan Satunama, Hardono Hadi PhD dan Forum Mangunwijaya, Ferry Indratno MHum.

Dalam diskusi ini, Ferry Indratno dari Forum Mangunwijaya mengatakan, anak merdeka ialah sosok citra manusia humanior yang disebut YB Mangunwijaya (Romo Mangun) dengan istilah 'manusia pasca-Indonesia dan pasca-Einstein'.

Lanjutnya, menurut Romo Mangun, anak merdeka mempunyai karakter sebagai manusia komunikator, esksplorator, kreatif dan integral.

Baca: Penerapan Link and Match Lembaga Pendidikan dengan Dunia Kerja

Manusia komunikator-eksplorator memiliki karakter yang suka mencari, bertanya, dan berpetualang.

"Ia punya keyakinan bahwa manusia yang bertanya jauh lebih tinggi tingkatnya daripada yang pintar menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sudah ada," kata Ferry.

Sementara manusia kreatif memiliki karakter berjiwa terbuka, kritis, kaya imajinasi-fantasi, dan tidak mudah menyerah pada nasib.

"Manusia integral sadar akan multidimensionalitas kehidupan, paham akan kemungkinan jalan alternatif, bijak membuat pilihan yang benar atas dasar pertimbangan yang benar," lanjutnya.

Baca: Disdikpora DIY Akan Perkuat Pendidikan Agama dan Reproduksi untuk Cegah Kasus Aborsi

Sementara itu, pada diskusi ini, Wakil Dekan I FIB UGM, Dr Agus Suwignyo menyampaikan, model pembelajaran yang ada di sekolah harus sesuai dengan konteks anak.

Agus mengatakan, ada beberapa tantangan pendidikan zaman sekarang, diantaranya bagaimana gerakan pembaruan pendidikan harus dikelola di tengah makro politik yang semakin demokratis.

"Tantangan lain yaitu adanya kecenderungan menempatkan gerakan pada sikap kritis terhadap struktur vertikal kekuasaan, juga kebutuhan yang menjadikan problem-problem struktur horizontal kekuasaan sebagai basis dan konteks gerakan pembaruan yang relevan," ujar Agus.

Ia menyebutkan, problem struktur horizontal saat ini yakni menguatnya politik identitas, problem dasar kemisikan dan arus besar perubahan terkait kemajuan teknologi.(TRIBUNJOGJA.COM)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved