Bantul

Dibalik TPST Piyungan yang 'Ditutup'

Kendaraan berat yang setiap hari beroperasi di antara tumpukan sampah, siang itu juga tidak terlihat. Aktivitas sepi.

TRIBUNJOGJA.COM / Ahmad Syarifudin
Kondisi sepi tanpa aktivitas di dalam TPST Piyungan 

Penutupan TPST Piyungan ini, dari perbincangan dengan mereka merupakan imbas dari akumulasi protes warga yang bertempat tinggal di sekitarnya lokasi pembuangan.

Kata Gombal dan Suyarto, warga setempat sudah berulang kali dijanjikan oleh pengelola untuk memperbaiki dalam hal pengelolaan sampah.

Namun akhirnya sama saja.

Tribun mencoba konfirmasi apa yang sebenarnya terjadi dengan mendatangi kantor UPT Pengelola TPST Piyungan yang berada tidak jauh dari lokasi pembuangan sampah.

Namun di kantor tersebut sepi. Tribun mencoba menunggu. Tak lama kemudian datang Sudras Yuli. Ia mengaku sebagai salah satu staff UPT TPST Piyungan.

Kepada Tribun ia menyampaikan bahwa TPST Piyungan memang tidak beroperasi karena ditutup.

Bahkan sejumlah alat berat, pengeruk sampah, kondisinya saat ini mengalami kerusakan--tidak bisa digunakan--karena beban kerja yang terlampau tinggi. Apalagi dimusim hujan.

"Alat berat ambles. Musim hujan berat sekali," tutur dia.

Tidak beroperasinya tempat pembuangan sampah artinya sejumlah sampah rumah tangga tidak bisa diangkut.

Kepala Bidang Persampahan dari DLH Bantul, Wahid mengatakan jika TPST Piyungan ditutup maka tidak ada alternatif lain yang bisa digunakan sebagi tempat pembuangan sampah.

"Karena kebijajan (dari) DIY hanya di TPST Piyungan. Kita sedang mencoba menjajaki kemungkinan bantul mengelola sendiri, tapi masih harus diskusi panjang," tuturnya, melalui pesan singkat. (TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: Ahmad Syarifudin
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved