Yogyakarta

Tiga Cagar Budaya di DIY Ikut Terdampak Bencana Hidrometeorologi

Tiga Cagar Budaya di DIY Ikut Terdampak Bencana Hidrometeorologi yang Terjadi Pada Minggu 17 Maret Lalu.

Tiga Cagar Budaya di DIY Ikut Terdampak Bencana Hidrometeorologi
TRIBUNJOGJA.COM / Amalia Nurul
Lokasi longsor di kompleks makam raja-raja Imogiri. 

TRIBUNJOGJA.COM – Banjir, tanah longsor serta angin kencang yang terjadi di 5 Kabupaten/Kota di DIY yang terjadi pada Minggu (17/3/2019) tidak hanya berdampak pada segi infrastruktur semata, namun juga sosial, budaya dan ekonomi produktif.

Kepala Pusat Pengendali Operasi (Pusdalop) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY Danang Syamsu Rizal, mengungkapkan bencana yang disebabkan curah hujan tinggi pada Minggu (17/3/2019) lalu berdampak terhadap seluruh sektor.

“Infrastruktur, sosial budaya, dari ekonomi produkitf juga terdampak. Selain itu juga pada pemerintahan dan sektor lingkungan juga terdampak. Dari tadi, perwakilan sektor, kita respon dampak dan menyiapkan sumberdaya,” ungkapnya.

Baca: Tak Hanya Genangi Pemukiman, Jebolnya Tanggul Kali Serang Juga Rendam Padi Siap Panen

Danang menyampaikan, dari sisi budaya, terdapat tiga cagar budaya yang terdampak akibat adanya bencana tersebut, yakni Makam Imogiri, Makam Giriloyo, dan juga Girisapto Museum.

“Kalau nilai budaya kan tinggi. Kita harus bisa investasi. Misalnya dengan perkuatan talud, pondasi, atau kekuatan tanahnya akan kita perbaiki. Ini sedang diselidiki oleh Dinas PU. Tantangan yang jadi perhatian kita, itu setiap tahun, yang mendominasi kejadian di wilayah Yogyakarta itu banjir dan tanah longsor,” ungkapnya

Dia menyampaikan jika pihaknya sudah melakukan antisipasi agar kerusakan tidak bertambah parah. Misalnya untuk lonsor yang ada di Makam Raja Imogiri akan dilakukan penutupan terpal di bagian yang longsor agar tidak kemasukan air. 

Baca: Bantu Korban Bencana, Polda DIY Kirimkan Mobil Dapur Umum ke Bantul dan Kulon Progo

Selain dengan pemasangan terpal untuk meminimalisir air yang masuk, Danang menyebutkan perlu langkah lebih revolusioner untuk mengatasi daya rusak air agar tidak kembali longsor.

“Mungkin, ada inovasi dari sisi tata ruang, pengelolaan infrastruktur fisik, dan perbaikan lingkungan hidup. Kita melihat ada hal yang sangat penting tentang bagaimana mengelola air permukaan. Termasuk bagaimana sektor kebudayaan responsive atau mengurangi risiko kebencanaan. Nanti akan kita integrasikan pengelolaan budaya dengan manajemen risiko bencana,” ungkapnya.(tribunjogja)

Penulis: Siti Umaiyah
Editor: has
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved