Nasional

Dosen UAD Ini Selamat dari Aksi Teror di Selandia Baru, Namun Teror Pun Menyisakan Tekanan Psikis

Sangat sulit bagi mereka untuk melihat tayangan tersebut, psikis para korban mulai terluka.

Dosen UAD Ini Selamat dari Aksi Teror di Selandia Baru, Namun Teror Pun Menyisakan Tekanan Psikis
istimewa
Dosen UAD saat melakukan Video Call via WhatsApp dengan awak media, Senin (18/3/2019) 

Saling menguatkan satu sama lain, Irfan bercerita ada salah satu jemaah yang melihat meneror tersebut menayangkan secara langsung aksi brutalnya.

Sangat sulit bagi mereka untuk melihat tayangan tersebut, psikis para korban mulai terluka.

Baca: Identitas Brenton Tarrant, Pelaku Penembakan di Masjid Selandia Baru yang Tewaskan 49 Orang

Namun, untuk melihat apakah ada satu diantara saudara lain yang terluka akibat tembakan, Irfan bersama yang lain pun mencoba tegar menonton aksi brutal peneror.

Sekitar 5 jam bersembunyi, terhitung sejak pukul 14.00 kurang sampai pukul 18.30 waktu setempat, akhirnya polisi berhasil mengevakuasi Irfan bersama dengan 16 korban lainnya di tempat persembunyiannya

"Saya peringatkan orang-orang di kampus dan teman-teman saya melalui sambungan telepon, jangan ada yang ke masjid. Saat itu, kami dengan berat hati menonton tayangan aksi brutal peneror, meskipun kami menolak untuk melihat, namun kami ingin memastikan apakah saudara salah satu dari kami ada yang tertembak. Setelah mengunggu, akhirnya polisi datang dan mengambil identitas kami," terangnya.

Pukul 7.30 waktu setempat akhirnya, Irfan diantar pulang sampai rumah dengan selamat oleh polisi.

Baca: Seniman Asal Padang dan Anaknya jadi Korban Penembakan di Selandia Baru

Kejadian tersebut, tidak pernah terlintas dalam benak Irfan akan terjadi.

Sebagai saksi mata dan penyintas, dirinya mengalami tekanan psikis sampai dengan saat ini.

"Kondisi saya Alhamdulillah baik-baik saja secara fisik. Namun sebagai saksi mata dan penyitas, saya mengalami tekanan psikis yang memerlukan beberapa waktu untuk bisa pulih. Kejadian ini bukan kota saja yang merasakan, namun seluruh New Zealand. Hari ini saya memberanikan diri, mencoba untuk melupakan dan kembali ke universitas agar tekanan psikis yang saya alami berangsur bisa pulih," katanya.

Anisa Nur Hasanah, yang sedang menempuh studi di University of Auckland, New Zealand, yang juga merupakan putri dari salah satu dosen yang juga mengajar di UAD dalam tayangan Video Call yang berbeda mengaku saat itu merupakan Jumat kelam bagi seluruh kota.

Halaman
1234
Penulis: Siti Umaiyah
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved