Yogyakarta

Gubernur DIY Sebut Generasi Muda Harus Cintai Museum

Sri Sultan Hamengku Buwono X berpendapat, museum menjadi jembatan budaya antargenerasi sekaligus jendela budaya.

Gubernur DIY Sebut Generasi Muda Harus Cintai Museum
twitter.com/kratonjogja
Gubernur DIY Sri Sultan HB X 

Hal ini dianggap beliau sebagai awal yang baik dan menjadi momentum untuk ada tindak lanjut lebih, dari setiap perjanjian antara Indonesia dengan negara manapun.

Baca: Museum Sejarah Purbakala Pleret Simpan Koleksi Peninggalan Mataram Islam

Sultan menyebut, naskah kuno adalah barang kehidupan bersejarah yang dianggap sebagai representasi dari berbagai sumber lokal yang paling otoritatif dan otentik, dalam memberikan informasi dan tafsir sejarah pada masa tertentu.

“Naskah kuno merupakan warisan budaya bangsa yang kandungan isinya mencerminkan beragam pemikiran pengetahuan adat istiadat dan perilaku masyarakat masa lalu,” jelasnya.

Dia juga mengatakan, dengan ditemukannya naskah kuno membuktikan bahwa sejak lama bangsa Indonesia sudah memiliki budaya literasi yang kini dikaji melalui pendekatan filologi.

Filologi ialah ilmu tentang bahasa kebudayaan pranata dan sejarah suatu bangsa yang bisa diketahui melalui penelitian untuk menafsir hakikat suatu tulisan.

Dalam kesempatan ini, Sultan juga menyampaikan terima kasih dan memberi apresiasi kepada para sejarawan dan peneliti yang berasal dari luar negeri atas perhatiannya untuk budaya Jawa.

Ketua Panitia Mangayubagya Sri Sultan Hamengku Buwono 30 Tahun Bertakhta, GKR Hayu mengatakan, upaya pengembalian naskah kuno milik Yogyakarta ini juga menimbulkan argumen tentang kemampuan untuk merawat.

Baca: Benteng Vredeburg Sajikan Koleksi Museum yang Bercerita Tentang Serangan Umum 1 Maret 1949

Untuk saat ini, dengan telah dikembalikannya sebagian kecil naskah oleh British Library, Keraton Yogyakarta ingin membuktikan pemanfaatannya.

“Dengan hanya dikasih file digitalnya saja, kita ingin menunjukkan kalau kita juga bisa memanfaatkan itu untuk berbagai kegiatan, seperti simposium, bedah naskah, hingga mungkin saja bisa menghasilkan rekonstruksi tari misalnya. Yang jelas kita tidak diam saja,” paparnya.

Dia juga mengatakan, simposium ini ingin berfokus pada, sebenarnya Keraton kehilangan apa, atau Jogja kehilangan apa.

Halaman
1234
Penulis: ais
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved