Breaking News:

Yogyakarta

Disdikpora DIY Akan Perkuat Pendidikan Agama dan Reproduksi untuk Cegah Kasus Aborsi

Didik menyampaikan jika kasus aborsi dalam peraturan perundang-undangan maupun agama sebenarnya tidak diperbolehkan.

TRIBUNjogja.com | Singgih Wahyu
WL (19) dan NA (18), sepasang kekasih muda asal Sentolo tega melakukan tindak aborsi terhadap janin yang masih dalam kandungan hasil hubungan di luar nikah, Selasa (5/3/2019) 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Terkait dengan kasus aborsi yang dilakukan siswa SMA di Kulonprogo, Didik Wardaya, Kepala Bidang Perencanaan dan Pengembangan Mutu Pendidikan, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) DIY mengungkapkan jika pihaknya akan memperkuat pendidikan mengenai keagamaan maupun pendidikan reproduksi.

Didik menyampaikan jika kasus aborsi dalam peraturan perundang-undangan maupun agama sebenarnya tidak diperbolehkan.

"Kita akan kedepankan pendekatan, bisa dari sisi keagamaan, bahwa itu sama agama dilarang. Dari sisi pendidikan terkait juga akan kita lakukan. Apakah nanti kita perkuat dalam pendidikan tematik yang ada dalam pembelajaran, atau secara materi tersendiri, itu yang perlu kami pikirkan," ungkapnya, Selasa (5/3/2019).

Baca: Kisah Sejoli di Kulon Progo Aborsi Janin Mulai Makan Nanas Hingga Telan Obat, Kini Mereka Dipenjara

Dia menerangkan jika berkaitan dengan kasus aborsi yang terjadi di Kulonprogo dirinya belum mengetahui secara pasti, akan tetapi nantinya dirinya akan mencoba mencari tahu dan memikirkan langkah yang akan dilakukan untuk pencegahan.

"Nanti kami akan cari tahu, dan langkah apa yang akan kita lakukan untuk pencegahan terutama ke depan, harus kita upayakan. Sebenarnya kalau anak SMA itu belum siap. Untuk aborsi jujur saya belum konfirmasi, yang jelas itu memang tidak boleh, secara aturan juga tidak boleh," ungkapnya.

Baca: Aborsi Ditolak, Gadis 11 Tahun Korban Perkosaan Jalani Operasi Caesar

Lebih jauh, Didik menerangkan jika dari Disdikpora DIY secara periodik sudah melakukan langkah antisipasi dengan cara memberikan pembekalan kepada para guru.

Nantinya, pembekalan tersebut akan diteruskan ke siswa yang ada di sekolah.

"Di SMA ada, di SLB ada, bagaimana mengenalkan pendidikan reproduksi. Kalau kita kenalkan ke guru, selanjutnya guru meneruskan ke anak yang ada di sekolah. Biasanya dalam program kita, setahun sekali, kita juga bekerjasama dengan pihak lain," ungkapnya. (TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: Siti Umaiyah
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved