Pendidikan

Perlunya Peningkatan Kemampuan Kerja pada Kaum Muda

Disparitas teknologi dan kesenjangan gender menjadi hambatan dalam peningkatan keterampilan kerja.

Perlunya Peningkatan Kemampuan Kerja pada Kaum Muda
istimewa
Diskusi yang bertajuk Meningkatkan Hasil Pasar Tenaga Kerja Muda dalam mendorong pertumbuhan ekonomi di ruang auditorium FEB UGM, Jumat (1/3/2019). 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Noristera Pawestri

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Organisasi Buruh Internasional (ILO) tahun 2017 pernah melaporkan sebanyak 60 persen pekerja Indonesia memiliki pekerjaan yang tidak sesuai dengan latar pendidikannya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Tribunjogja.com, beberapa pengamat ekonomi menilai hal itu ditengarai terjadinya ketidaksesuaian kurikulum pendidikan yang tidak sesuai dengan kebutuhan kerja dunia industri.

Serta masih minimnya balai latihan kerja dan rendahnya permintaan pelatihan keterampilan bagi kaum muda.

Demikian beberapa hal yang mengemuka dalam Diskusi yang bertajuk Meningkatkan Hasil Pasar Tenaga Kerja Muda dalam mendorong pertumbuhan ekonomi di ruang auditorium FEB UGM, Jumat (1/3/2019).

Baca: On Trend: 6 Gaya Mix and Match Koleksi Terbaru Gaudi Clothing

Diskusi ini menghadirkan perwakilan IMF John C Bluedorn Ph D, Dosen FEB UGM Gumilang Aryo Sahadewo SE MA PhD dan ekonom UI dan pengurus ISEI Dr Ninasapti Triaswati SE MSc.

Perwakilan IMF, John Bluedorn PhD mengatakan setiap negara menghadapi tantangan yang hampir sama dalam meningkatkan keterampilan kerja kaum muda.

Disparitas teknologi dan kesenjangan gender menjadi hambatan dalam peningkatan keterampilan kerja.

"Padahal rendahnya keterampilan kerja dan rendahnya kualitas pendidikan menyebabkan angka pengangguran tenaga kerja muda meningkat,” katanya.

Penguatan lembaga latihan kerja, peningkatan kualitas pendidikan, pemberian pelatihan usaha dan pemasaran serta adanya jaminan sosial dan hukum terutama untuk kelompok perempuan sangat diperlukan.

Baca: Jelang UTBK 2019, UGM Siapkan 53 Ruang Ujian

Menurutnya kaum muda di Indonesia perlu mendapatkan pendidikan peningkatan kompetensi dan pelatihan usaha. 

Sementara itu, pengurus ISEI Ninasapti Triaswati PhD menyoroti kesenjangan teknologi di kalangan tenaga kerja muda dan belum meratanya fasilitas ketersediaan listrik dan internet menjadi hambatan dalam pengembangan pembangunan ekonomi industri berbasis digital.

“Bila tidak ada listrik dan internet dampak ekonomi dari revolusi digital akan sulit dirasakan seluruh daerah,” ujarnya.

Soal ketenagakerjaan, ia meminta pemerintah perlu mendorong lahirnya peraturan ketenagakerjaan yang pro tenaga kerja serta mendorong iklim investasi yang baik sehingga terciptanya lapangan kerja baru.

“Pemerintah dan politisi harus pro tenaga kerja sehingga ekonomi bisa tumbuh dengan baik,” katanya. (*)

Penulis: Noristera Pawestri
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved