Bisnis

OJK : Fintech Marak Karena Ceruk Pembiayaan Sangat Besar

Fintech membantu menstimulus pertumbuhan perbankan senilai 0,8 persen dan 0,6 persen untuk perusahaan pembiayaan lain.

OJK : Fintech Marak Karena Ceruk Pembiayaan Sangat Besar
TRIBUNJOGJA.COM / Yosef Leon Pinsker
Deputi Direktur Pengaturan, Penelitian, dan Pengembangan Financial Technologi OJK, Munawar saat memberikan keterangan dalam pelatihan wartawan Kantor Regional 3 OJK Jateng-DIY pekan lalu di Bandung. 

Bukan hanya yang ilegal, yang terdaftar dan berizin pun kerap menggunakan cara-cara yang tidak lazim ketika menagih kredit kepada nasabah yang telah jatuh tempo.

Selain itu, bunga yang mencekik juga menjadi persoalan lain dari maraknya Fintech.

"Kita memang tidak mengatur besaran bunga pada Fintech, semua diserahkan kepada masing-masing perusahaan. Namun hal itu telah diatur oleh asosiasi yakni maksimal 0,8 persen per hari," ungkapnya.

Di samping itu, penetapan jumlah total biaya, biaya keterlambatan dan seluruh biaya lainnya maksimal adalah 100 persen dari jumlah pinjaman yang diatur oleh Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI).

Setiap Fintech yang terdaftar di OJK juga di dorong untuk ikut masuk ke dalam anggota asosiasi Fintech, agar meminimalkan tindakan-tindakan yang sekiranya dapat merugikan nasabah.

Baca: Awas! Fintech Ilegal Bisa Curi dan Salahgunakan Data Anda

Dilanjutkan Munawar, AFPI kini juga tengah mengadakan pelatihan kepada para desk colector dan nantinya setiap penagih akan memiliki sertifikat tertentu guna mengatur tata cara penagihan yang baik dan tidak intimidatif.

"Jika nasabah masih juga mengalami kendala terhadap Fintech yang berizin itu masih bisa mengadu ke asosiasi atau ke OJK. Kalau yang ilegal itu yang susah, kita juga tidak tahu kantornya berada dimana," sambungnya.

Dalam mengakses pinjaman ke sejumlah Fintech, konsumen juga terkadang gegabah dan serampangan.

Mayoritas nasabah tidak terlalu memperhatikan aturan yang diberlakukan oleh Fintech.

Nasabah kadang tergesa hanya untuk berhasil mendapatkan pinjaman saja, belakangan ketika tahu aturan tidak sesuai dengan yang ditetapkan, baru mereka protes.

Halaman
1234
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved