Aktifitas Gunung Merapi

Luncuran Awan Panas, BPBD DIY Minta Warga dan Penambang Hati-Hati

Luncuran Awan Panas, BPBD DIY Minta Warga dan Penambang Hati-Hati. Potensi Awan Panas dan Banjir Lahar Dingin Cukup Tinggi.

Badan Geologi via BPPTKG Yogyakarta
Kondisi Puncak Gunung Merapi Senin (18/2/2019) pukul 08.48 WIB. Hasil Pengamatan periode 06.00-12.00 WIB, terekam 18 kali gempa guguran dengan durasi 21-71 detik. 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Agung Ismiyanto

TRIBUNJOGJA.COM - Masyarakat yang tinggal di alur sungai Gendol dan wilayah kawasan rawan bencana III (KRB III) Merapi diminta untuk mewaspadai guguran awan panas. Kegiatan penambangan di sungai Gendol pun wajib memperhatikan informasi seakurat mungkin.

“Terkait awan panas, maka yang perlu waspada para penambang di kali Gendol dan masyarakat yang beraktivitas di KRB III,” jelas Kepala Pelaksana BPBD DIY, Biwara Yuswantana, Senin (25/2/2019).

Dia meminta warga bisa memantau jaringan komunikasi dan informasi dari petugas agar cepat mengambil langkah bila terjadi sesuatu yang membahayakan. Namun, pihaknya tetap mengacu pada rekomendasi dan status Merapi dari BPPTKG yaitu level 2 atau waspada.

Baca: Cuaca Ekstrem, Ini Sembilan Kejadian Yang DIcatat BPBD DIY

Dia menjelaskan, pada radius 3 km dari puncak Gunung Merapi tidak diperkenankan untuk aktivitas penduduk.

Termasuk mewaspadai bahaya lahar yang akan terjadi. Banjir lahar ini juga sangat membahayakan di cuaca ekstrem seperti saat ini.

“Para penambang pasir di hulu sungai Gendol lebih baik menghentikan dulu penambangan bila cuaca membahayakan. Hal ini untuk menghindari luapan air yang tiba-tiba datang, sampai ada informasi cuaca dari BMKG yang lebih bersahabat,” urainya.

Dia mengatakan, untuk kewenangan menutup penambangan pasir itu adalah kewenangan DPUESDM. Namun, pihaknya memberi rekomendasi kalau dilihat dari perpsektif kebencanaan sebaiknya di hulu Gendol itu dihindari untuk penambangan yang langsung ke sungai.

Baca: Curah Hujan Tinggi, BMKG Minta Warga Pesisir Waspada Gelombang Tinggi

“Kecepatan lahar dan informasi lebih cepat laharnya, apalagi posisi di bawah pakai truk dimungkinkan tidak bisa gerak. Kalau ada gejala yang perlu menghentikan penambangan ya saya kira perlu,” urainya.

Dia kembali mengingatkan, masyarakat agar tidak terpancing isu-isu mengenai erupsi Gunung Merapi yang tidak jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan aparat pemerintah daerah atau menanyakan langsung ke Pos Pengamatan Gunung Merapi terdekat.

Baca: BREAKING NEWS : Siang ini, Merapi Luncurkan Awan Panas ke Kali Gendol dengan Jarak Luncur 1,1 KM

Dia menyebut ada beberapa posko informasi seperti di  Wonokerto, Pakem, Tempel sampai Ngemplak yang menjadi rujukan info masyarakat. Pos pemantauan di Kinahrejo, Srunen, Kemalang bisa memantau visual dan memberikan informasi ke masyarakat.

“Jaringan komunikasi informasi BPPTK, BPBD, dan komponen masyarakat di posko-posko jadi kunci informasi cepat, tepat, sampai agar masyarakat mendapat informasi yang benar. Jadi tetap mengikuti arahan aparat pemerintah daerah atau menanyakan langsung ke Pos Pengamatan Gunung Merapi terdekat,” tutupnya.(tribunjogja)
 

Penulis: Agung Ismiyanto
Editor: Hari Susmayanti
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved