Istilah yang Dipakai Pada Debat Capres 2019 Mulai Jaringan Backbone hingga Unicorn Indonesia

Istilah yang Dipakai Pada Debat Capres 2019 Mulai Jaringan Backbone hingga Unicorn Indonesia

Istilah yang Dipakai Pada Debat Capres 2019 Mulai Jaringan Backbone hingga Unicorn Indonesia
KompasTV
Debat Capres 2019 

Menurut penelusuran, "Why Nations Fail" merupakan buku karya Daron Acemoglu dan James Robinson.

Dilansir dari laman Whynationfail.com, buku ini berisi tentang ulasan komprehensif soal adanya negara kaya dan negara miskin, ditinjau dari beberapa fakto, misalnya kekayaan dan kemiskinan, kesehatan dan penyakit, serta makanan dan kelaparan.

Menurut penulis, adanya fenomena ini bukan soal budaya, nasib, bahkan takdir, melainkan adanya lembaga ekonomi dan politik yang dibuat dan dijalankan oleh manusia, yang menjadi dasar kesuksesan ekonomi.

Disebutkan bahwa Korea menjadi satu dari sederet contoh pembuktian bahwa aktor intelektual berpengaruh terhadap kemajuan negara.

Korea Utara termasuk dalam jajaran negara miskin di dunia, yang justru berbeda 180 derajat dengan saudara mereka, Korea Selatan.

https://www.instagram.com/p/BrbJkjzBRlh/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=1ghmxcdw0ez7j

Dalam buku "Why Nations Fail" setidaknya terdapat tiga pertanya penting yang coba dijawab oleh kedua penulis.

1. China telah membangun mesin pertumbuhan yang otoriter, apakah itu akan bertahan dan tumbuh dengan cepat hingga bisa menyaingi negara Barat?

2. Apakah Amerika ada di belakangnya? Apakah kita bergerak dari lingkaran di mana para elit berusaha memperbesar kekuasaan, ke lingkaran setan yang memperkaya dan memberdayakan minoritas kecil?

3. Apa cara paling efektif untuk membantu memindahkan miliaran orang dari kemiskinan menuju jalur kemakmuran?

Buku "The Origin of Power, Prosperity, and Poverty: Why Nations Fail" karya Daron Acemoglu dan James Robinson telah dirilis sejak tahun 2012, terdiri dari setidaknya 546 halaman.

Buku ini juga sudah hadir dalam Bahasa Indonesia.

Saat Prabowo ditanya alasan dirinya membaca buku ekonomi-politik ini, dia menjawab dirinya bukan pesimis, tapi perlu belajar lagi soal negara lain. (*)

Penulis: Fatimah Artayu Fitrazana
Editor: iwe
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved