Internasional

Bila Es Terus Mencair, Greenland Bisa Jadi Tambang Pasir Baru

Penambangan pasir dan kerikil yang banyak digunakan dalam industri konstruksi dapat meningkatkan kesejahteraan penduduk

Bila Es Terus Mencair, Greenland Bisa Jadi Tambang Pasir Baru
NEW YOTK POST / AP via Kompas.com
Gunung es diperkirakan seberat 11 juta ton terlihat di dekat sebuah pulau dengan beberapa bangunan di Greenland. 

TRIBUNJOGJA.COM - Para ahli pada Senin kemarin (11/2/2019) berkata bahwa Greenland bisa jadi tempat eksportir pasir besar bila lapisan es di pulau itu terus mencair.

Penambangan pasir dan kerikil yang banyak digunakan dalam industri konstruksi dapat meningkatkan kesejahteraan penduduk Pulau Greenland yang berjumlah 56 ribu jiwa.

Greenland, yang terletak di antara Samudra Arktika dan Atlantik di Amerika Utara punya otonomi untuk mengatur pemerintahannya sendiri tapi tetap masuk kekuasaan Denmark.

Pulau itu juga sangat bergantung pada subsidi dari Kopenhagen.

"Dengan menambang pasir, Greenland dapat mengambil manfaat dari tantangan yang dibawa perubahan iklim," tulis tim ilmuwan Denmark dan Amerika Serikat yang diterbikan di jurnal Nature Sustainability.

Baca: Bola Api yang Meledak di Atas Greenland Getarkan Bumi Hingga Tercatat Sensor Gempa

Studi baru tersebut berjudul "Janji dan Bahaya Eksploitasi Pasir di Greenland" membahas perihal Arktika yang harus menilai risiko penambangan pesisir pantai, terutama bagi industri perikanan.

Pemanasan global mengakibatkan mencairnya lapisan es di Greenland, yang memiliki jumlah volume air yang cukup untuk menaikkan permukaan laut global sekitar tujuh meter jika semuanya mencair, dan membawa lebih banyak pasir dan kerikil ke pesisir fjords.

Fjord adalah teluk yang terbentuk karena lelehan gletser.

"Anda dapat menganggapnya (es yang mencair) sebagai keran yang mencurahkan sedimen ke pantai," kata ketua penulis Mette Bendixen, seorang peneliti di Institut Penelitian Arktik dan Alpen di Universitas Colorado.

Permintaan pasir di seluruh dunia mencapai sekitar 9,55 miliar ton pada 2017 dengan nilai pasar 99,5 miliar dollar AS (Rp 1,4 triliun) dan diproyeksikan mencapai hampir 481 miliar dollar AS (Rp 6,7 triliun) pada 2100, didorong oleh meningkatnya permintaan dan kemungkinan kekurangan, kata studi tersebut.

Halaman
12
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved