Breaking News:

Sleman

Harga Cabai di Sleman Anjlok

Untuk harga cabai rawit berkisar antara Rp 9 ribu sampai Rp 10 ribu per kilogramnya, sedangkan cabai keriting mencapai angka Rp 6 ribu.

Net
Ilustrasi 

TRIBUNJOGJA.COM - Kondisi turunnya harga cabai terjadi di Sleman.

Selain anjloknya harga cabai, para petani juga mengeluhkan tanamannya yang terserang penyakit patek.

Abdul Basar (40) petani cabai dari Dusun Prigen, Widodomartani, Ngemplak memaparkan harga cabai sudah jatuh dalam beberapa minggu terakhir.

Untuk harga cabai rawit berkisar antara Rp 9 ribu sampai Rp 10 ribu per kilogramnya, sedangkan cabai keriting lebih rendah lagi, yakni mencapai angka Rp 6 ribu.

Harga itu merosot jauh dari akhir tahun 2018 yang bisa menyentuh Rp 40 ribu per kilogram.

"Di beberapa daerah panen raya cabai jadi harganya tidak terkontrol," terangnya pada Tribunjogja.com, Selasa (12/2/2019).

Baca: Palette: Tips Memakai Maskara untuk Pemula

Selain anjloknya harga cabai, kondisi pertanian juga tengah diserang penyakit patek.

"Rugi, banyak patek harga anjlok," katanya.

Namun demikian, Basar bersyukur masih ada pasar lelang cabai yang bisa sedikit membantu.

Dengan adanya lelang cabai, maka harga cabai bisa terkatrol naik hingga Rp 2 ribu.

Terpisah Kepala Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan (DP3) Sleman Heru Saptono mengatakan, untuk mengendalikan harga cabai agar tidak terlalu anjlok pihaknya akan segera membuka akses penjualan ke pasar tradisional agar cabai bisa terserap.

Namun sebelum ke pasar tradisional, akan melalui pasar lelang cabai terlebih dahulu.

Hal itu lantaran selama ini banyak tengkulak dari luar daerah yang mengambil cabai dari Sleman.

"Kedepan kami coba buka akses dengan dipertemukan kepada pengelola pasar tradisional di enam pasar seperti Pasar Gamping, Pakem, Godean, Prambanan. Minggu depan akan kami pertemukan," terangnya.

Sementara itu terkait hama patek yang menyerang tanaman cabai, Heru menjelaskan, hal itu disebabkan oleh udara lembab.

Terlebih saat ini intensitas hujan di Sleman juga sering.

Maka dari itu, solusi yang akan dilakukan oleh dinas adalah dengan mengintensifkan pengendalian hama terpadu, dan memberikan pelatihan Sekolah Lapang Cabai (SLC) ke petani. (*)

Penulis: Santo Ari
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved