Cerita Pelukis Babad Diponegoro Alami Peristiwa Aneh di Tempat Diponegoro Ditawan, Didatangi Kijang

Karya lukis Setyo Priyo Nugroho tentang sepotong kisah gerilya Pangeran Diponegoro di sekitar Bagelen, Purworejo, ini terasa kuat mencekam

Cerita Pelukis Babad Diponegoro Alami Peristiwa Aneh di Tempat Diponegoro Ditawan, Didatangi Kijang
Kolase SETYA KS | Dokrpi SETYO PRIYO
Pelukis Setyo Priyo Nugroho dan rekannya, Mumu Lemu, berpose di depan lukisan karyanya berjudul "Tepeng" 

“Eh, tiba-tiba ada kijang jantan datang mendekat,” lanjutnya.

Pelukis Setyo Priyo Nugroho dan rekannya, Mumu Lemu, berpose di depan lukisan karyanya berjudul
Pelukis Setyo Priyo Nugroho dan rekannya, Mumu Lemu, berpose di depan lukisan karyanya berjudul "Tepeng" (Kolase SETYA KS | Dokrpi SETYO PRIYO)

“Kijang itu diam dan lama berdiri di depan saya. Saya ulurkan tangan saya yang saya kucuri air minum. Kijang itu meminumnya, dan saya ulang lagi sampai air di botol
habis. Kijang itu tetap tak mau pergi sampai saya meninggalkan lokasi itu,” urai Setyo.

Bagi Setyo, peristiwa di Magelang itu bukan sebuah kebetulan belaka.

Ia tidak tahu harus mengistilahkan apa, namun yakin ada kaitan kuat dengan tugas dan proses karya lukis Babad Diponegoro, yang harus diselesaikannya.

Dalam pupuh yang ditulis di Babad Diponegoro, kemunculan harimau atau macan saat Diponegoro dan pengikutnya di hutan Wanalarban, bermaksud baik. Yaitu mengantarkan
hewan buruan kijang.

Penduduk sekitar mengatakan, macan itu bernama Tepang, penunggu hutan Wanalarban.

“Saya tidak tahu, masih berusaha memahami, apakah macan dan kijang itu “sanepan”, atau memang sungguhan,” kata Setyo di Jogja Gallery.

Tapi lepas dari apapun, setelah peristiwa di Magelang, Setyo jauh lebih mudah menuangkan adegan yang jadi bagiannya itu dalam kanvas. Kebetulan juga, ia dikenal
pelukis yang nyaris identik dengan gambar macan atau harimau.

Bisa dibuktikan dengan goresannya di kanvas, yang nyaris sempurna menggambarkan sesosok harimau loreng yang melangkah pelan, dengan posisi kepala tertunduk, seolah
juga memancarkan sikap hormat dan tunduk pada Pangeran Diponegoro.

Secara keseluruhan, karya lukis Setyo Priyo Nugroho ini dominan berwarna cokelat kemerahan, tidak menampakkan detail latar belakang dan permukaan buminya. Ia sengaja
membuat seperti berkabut.

Halaman
1234
Penulis: xna
Editor: iwe
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved