Pemadam Kebakaran Sleman Akan Siagakan 'Gajah Merah' di Kecamatan Depok

Saat ini Satpol PP Kabupaten Sleman tengah berkoordinasi dengan Kecamatan Depok agar dapat menyiagakan satu armadanya di sana.

Pemadam Kebakaran Sleman Akan Siagakan 'Gajah Merah' di Kecamatan Depok
bakersfieldnow.com
Pemadam kebakaran menjinakkan api 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Menyempitnya ruas jalan ketika dilaksanakan proyek underpass Kentungan menyulitkan petugas pemadam kebakaran bertindak saat terjadi kebarakan di wilayah Sleman bagian timur.

Terkait hal tersebut, saat ini Satpol PP Kabupaten Sleman tengah berkoordinasi dengan Kecamatan Depok agar dapat menyiagakan satu armadanya di sana.

Kasi Operasional Bidan Linmas Satpol PP Sleman, Bambang Kuntoro, mengatakan bila ada kejadian kebakaran di wilayah Depok dan Sleman timur, mereka akan kesulitan karena jalan di Kentungan yang menyempit.

Sedangkan mobil pemadam kebarakan atau yang biasa disebut dengan 'gajah merah' harus cepat datang ke lokasi kebakaran.

"Kami akan mengalami kesulitan jika diperlukan waktu yang cepat ketika ada laporan kebarakan di wilayah Depok atau Sleman timur yang melewati underpass tersebut. Karena jalannya sempit, ramai maka akan membutuhkan waktu yang lama untuk menjangkau tempat yang kebarakan," terangnya, Minggu (3/2/2019).

Untuk mengatasi hal tersebut, maka Satpol PP Sleman tengah berkoordinasi dengan Kecamatan Depok agar bisa menempatkan satu armadanya di area kantor kecamatan.

"Saat ini masih koordinasi untuk dicarikan tempat yang lebih leluasa bergerak," tambahnya.

Adapun pemadam kebakaran Sleman memiliki empat armada.

Selain satu unit akan ditempatkan di wilayah Depok, dua diantaranya tetap disiagkan di markas untuk menjangkau Sleman tengah, dan satu unit lagi disiagakan di wilayah Godean.

Kemudian, jika terjadi kebakaran di wilayah timur atau barat dan memerlukan bantuan armada, pihaknya akan berkoordinasi dengan pemadam kebarakan Bantul atau Kota Yogyakarta.

Tergantung unit mana yang paling dekat untuk mengantisipasi kejadian kebakaran.

Sedangkan terkait potensi kebakaran di wilayah Sleman, Bambang memaparkan yang paling tinggi saat ini masih karena aspek korsleting listrik.

"Apalagi saat ini banyak rumah pondokan atau kosan ketika menggunakan listrik kadang di luar batas kemampuan, misal satu colokan dipakai untuk beberapa alat kemudian ditinggal pergi begitu saja, itu berpotensi kebakaran," terangnya.

Sedangkan kalau musim kemarau tiba, potensi kebakaran lainnya adalah karena bakaran sampah. Biasanya hal itu terjadi di daerah pegunungan, Prambanan dan Gamping. (*)

Penulis: Santo Ari
Editor: Muhammad Fatoni
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved