Pendidikan

UNY Berhasil Masuk Top 500 Asia versi QS

UNY berhasil mendapatkan peringkat 3 dan 8 UniRank Indonesia dan peringkat 11 universitas terbaik di Indonesia versi Kemenristekdikti.

UNY Berhasil Masuk Top 500 Asia versi QS
TRIBUNJOGJA.COM / Tantowi Alwi
Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). 

TRIBUNJOGJA.COM - Universitas Negeri Yogyakarta berhasil masuk dalam Top 500 Asia versi QS, peringkat 3 dan 8 UniRank Indonesia dan peringkat 11 universitas terbaik di Indonesia versi Kemenristekdikti tahun 2018.

Hal tersebut dipaparkan oleh Sutrisna Wibawa, selaku Rektor UNY beberapa hari lalu.

Sutrisna menjelaskan jika pada tahun 2018, UNY berhasil menjadi Top 500 Asia versi QS.

Bukan hanya itu, UNY juga berhasil mendapatkan peringkat 3 dan 8 UniRank Indonesia dan peringkat 11 universitas terbaik di Indonesia versi Kemenristekdikti.

Menurut Sutrisna, saat ini UNY mulai bergerak menuju world class university.

Untuk menuju kesana, diperlukan kerja keras dari semua elemen.

Baca: Lebarkan Sayap, Naavagreen Akan Buka Cabang Baru di Bintaro dan Jambi

“Kita mulai bergerak menuju world class university. Oleh karena itu perlu kerja keras untuk mewujudkannya," terangnya pada Tribunjogja.com.

Sedangkan Suyanto, Guru Besar FE UNY menerangkan untuk menuju world class university, di abad 21 dosen profesional harus membuat proses belajar mengajar dengan pola to describe, to explain, to illustrate, to demonstrate yang pada ujungnya akan menginspirasi.

"Di abad 21, dosen harus bisa mengajar dengan pola to describe, to explain, to illustrate, to demonstrate yang pada ujungnya akan menginspirasi. Inilah pendidikan era global yang kompetitif,” katanya.

Baca: Mahasiswa UNY Gunakan Permainan Monopoli untuk Tarik Minat Belajar Siswa

Menurut Suyanto dosen adalah faktor utama dalam menentukan keberhasilan proses belajar-mengajar yaitu learning to learn.

Dia juga menerangkan untuk menghadapi era revolusi industri, segala sesuatu harus diperbaiki terus menerus tanpa henti.

Dimana hal tersebut diperlukan keterampilan berpikir yang kritis dan kreatif.

"Era revolusi industri memang harus bersikap inovatif karena hari esok harus lebih baik dari hari ini, oleh karena itu segala sesuatu harus diperbaiki terus menerus tanpa henti. Untuk itu perlu keterampilan berpikir dengan cara berpikir kritis dan kreatif, problem solving dan pembuatan keputusan," terangnya. (*)

Penulis: Siti Umaiyah
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved