Waspada DBD, Siklus Penderita DBD di Yogyakarta Diprediksi Bergeser dari Anak-anak ke Orang Dewasa
Warga diminta untuk mewaspadai demam dan beberapa gejala yang timbul dari penyakit ini
Penulis: Agung Ismiyanto | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA.COM - Siklus penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) dimungkinkan akan bergeser dari anak-anak ke usia dewasa di Yogyakarta.
Meski demikian, tingkat kekebalan orang dewasa akan jauh lebih kuat dibandingkan dengan anak-anak.
Pakar DBD, Prof Dr dr Sutaryo mengatakan, pergeseran penderita DBD ini bisa dipengaruhi beberapa faktor.
Diantaranya, populasi nyamuk Aedes aegypti sudah ada sejak tahun 1968 dan hampir 21 tahun ada di Yogyakarta.
“Jika pada tahun 1970 sampai tahun 2000an penderitanya adalah anak-anak, namun sekarang siklusnya bergeser. Bisa kena orang-orang dewasa, anak-anak yang belum terpapar atau ibunya. Anak-anak DIY sekarang lebih kebal pada DBD,” jelasnya saat ditemui Tribunjogja.com di Kepatihan, Rabu (23/1/2019).
Hanya saja, ujar dia, tingkat imunitas tubuh orang dewasa dengan anak-anak akan berbeda.
Meskipun tingkat keparahannya sama.
“Jika sampai syok tidak seberat pada anak-anak. Tetapi harus diwaspadai,” ulasnya.
Diakuinya pola penyakit DBD di seluruh dunia sama.
Namun untuk jenis virus Dengue di Indonesia lebih banyak tipe Dengue 2 dan Dengue 3.
Dari hasil penelitian di Indonesia yang paling berbahaya Dengue 3, karena paling banyak syok dan bisa mengakibatkan kematian.
Sementara itu di Thailand lebih banyak Dengue 2 dan di Karibia ada Dengue 1,2 dan 3.
Kasus DBD di DIY di tahun ini tidak sebanyak di daerah lain, karena kemungkinan daya tahan tubuh anak Yogyakarta sudah cukup kuat.
Prof Sutaryo juga mengemukakan pergeseran siklus ini pun sama dengan imunitas terhadap penyakit lain seperti cacar air.
Jika pada masa kecilnya sudah terkena, maka pada saat dewasa tidak kena karena tubuhnya telah imun.