Jawa

Setiap Tahun 4 Hektar Lahan Pertanian di Kota Magelang Menghilang, Tergusur Bangunan

Dari 243 hektar yang masih tersisa, bisa jadi 20 tahun ke depan, lahan pertanian kota hanya tinggal 80 hektar saja.

Setiap Tahun 4 Hektar Lahan Pertanian di Kota Magelang Menghilang, Tergusur Bangunan
TRIBUNJOGJA.COM / Rendika Ferri
Lahan pertaniah yang ada di sepanjang Jalan Beringin III, Kelurahan Tidar Selatan, Kecamatan Magelang Selatan, terhimpit bangunan beton, menyisakan beberapa petak sawah di tengah-tengah, Kamis (24/1/2019). 

Setiap pergeseran atau perubahan fungsi lahan harus sepersetujuan dan pengkajian mendalam dari Badan Koordinasi Penataan Ruangan Daerah.

"Melalui regulasi itu upaya perlindungan terhadap LP2B dilakukan. Pengurangan lahan pertanian harus lewat pengendalian, maksimal empat hektar per tahun. Hamparan harus cukup dan ada keseimbangan. Dalam perda tata ruanh wilayah juga diatur bahwa setiap penggeseran atau perubahan harus melalui badan koordinasi penataan ruang daerah, dengan begitu pengurangan lahan dapat terkendali," ujarnya.

Eri mengatakan, kebutuhan lahan untuk pembangunan infrastruktur, sarana-prasarana, permukiman masyarakat ini memang terus bertambah dan tak dapat dihindari.

Terlebih saat luas lahan di Kota Magelang yang sempit, sehingga diperlukan strategi lain untuk mempertahankan sektor pertanian di Kota Magelang.

Salah satu diantaranya adalah dengan memanfaatkan lahan sempit yang memiliki sumber daya air yang memadai, baik di depan atau teras rumah.

Rumah tangga yang ada di Kota Magelang diarahkan untuk menerapkan sistem pertanian demikian, selain mempertahankan lahan pertanian yang tersisa.

"Kami mengoptimalkan lahan yang sempit, seperti di depan rumah, teras, di samping, yang akan diperuntukkan untuk pertanian atau perikanan. Rumah tangga di Magelang diarahkan seperti itu. Melalui itu kurang lebih akan menambah luas lahan pertanian yang ada," ujarnya.

Ide yang lebih visioner lagi adalah dengan menggunakan sistem pertanian vertikultur, dimana tanaman ditanam secara vertikal.

Sistem ini dapat dikembangkan di lahan sempit, bahkan di atap rumah dengan lingkungan yang dapat dikendalikan, baik dari sisi kebutuhan air sampai sinar matahari.

Hasilnya pun juga tak kurang dibanding dengan lahan pertanian konvensional.

"Lahan pertanian 20 tahun ke depan bisa jadi tidak lagi dengan cara konvensional lagi, tetapi dengan cara lain seperti Vertikultur yang cukup dengan menggunakan rooftop rumah. Lingkungan dapat dikendalikan, termasuk kebutuhan sinar matahari bisa direka menggunakan lampu LED. Semuanya mungkin dilakukan. Ini menjadi upaya mempertahankan sektor pertanian di Kota Magelang ini," ujarnya. (*)

Penulis: rfk
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved