Yogyakarta

Polda DIY Kembali Panggil BPPM Balairung

Polda DIY kembali melakukan pemanggilan kepada BPPM Balairung berkaitan dengan penyidikan kasus dugaan pemerkosaan yang terjadi di UGM

Polda DIY Kembali Panggil BPPM Balairung
IST
Penasehat Hukum Balairung saat memberikan keterangan kepada wartawan seusai mendampingi Thovan dalam pemeriksaan yang dilakukan di Polda DIY pada Kamis (17/1/2019) 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Polda DIY kembali melakukan pemanggilan kepada Badan Penerbitan dan Pers Mahasiswa (BPPM) Balairung berkaitan dengan penyidikan kasus dugaan pemerkosaan yang terjadi di UGM.

Setelah sebelumnya Tim Penyidik Polda DIY melakukan pemanggilan kepada Citra Maudy, Pimpinan Umum Balairung sekaligus penulis berita Nalar Pincang UGM yang memuat adanya dugaan pemerkosaan yang melibatkan mahasiswa UGM, hari ini Kamis (17/1/2019).

Tim Penyidik melakukan pemanggilan terhadap Thovan Sugandi yang merupakan editor dalam tulisan tersebut.

Yogi Zul Fadhli, selaku Pendamping dari LBH Yogyakarta sekaligus Penasehat Hukum Citra dan Thovan menerangkan jika sejak awal pihaknya keberatan dengan adanya pemanggilan tersebut.

"Thovan dipanggil sebagai saksi atas laporan bapak Arif Nur Cahyo, yang melaporkan tindak pidana perkosaan kepada Polda DIY. Prinsip sama seperti Citra, sejak awal kami memang keberatan dengan adanya pemanggilan ini," ungkapnya.

Baca: 90 Organisasi Menolak Kriminalisasi Terhadap Penulis Balairung Press

Dia menilai, berita yang dikeluarkan oleh Balairung sudah sesuai dengan kaidah-kaidah jurnalistik.

Selain itu, dalam pemberitaannya Balairung memposisikan diri sebagai wartawan yang terikat oleh Undang-undang Pers dan Kode Etik Jurnalistik, dimana diterangkan tidak bolehnya mengungkapkan hal-hal yang berhubungan dengan reportase yang sudah dilakukan guna melindungi narasumber

"Kami (Balairung) sudah memposisikan diri sebagai wartawan, dimana kerja wartawan terikat oleh undang-undang pers dan kode etik jurnalistik. Selain itu, kami juga keberatan dengan materi yang diajukan oleh penyidik karena materi justru banyak mengeksplorasi mengenai pemberitaan Balairung," ungkapnya.

Menurutnya hal tersebut menjadi ganjil, karena tidak selaras dengan apa yang telah dilaporkan.

"Yang dilaporkan adalah pemerkosaanya, kenapa lantas justru banyak mempertanyakan mengenai hal yang berkenaan dengan pemberitaan, baik isi, proses peliputan, itu yang kami nilai ganjil. Meskipun penyidik, menjelaskan Balairung dipanggil karena laporan yang diajukan oleh pak Arif mendasarkan kepada pemberitaan Balairung," katanya.

Baca: Pimpinan Balairung Press Buka Suara tentang Reportase Kasus Agni

Yogi mengatakan, setidaknya terdapat 30 pertanyaan yang diajukan kepada Thovan, dan pertanyaan yang diajukan hampir sama dengan apa yang diajukan kepada Citra sebelumnya.

"30 pertanyaan, ada beberapa yang menurut kami tidak masuk akal, seperti ditanya kondisi KKN, rumahnya ukuran berapa, itu pertanyaan yang tidak relevan, posisi thovan tidak ada di lokasi. Kawan Balairung berhak menolak pertanyaan yang berkaitan dengan proses pembuatan berita, Thovan juga sudah menegaskan di awal, bahwa dia tidak bisa menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan proses reportase," katanya.

Mengenai ada tidaknya pendampingan dari UGM kepada Balairung, Yogi menerangkan sejauh ini belum ada komunikasi dengan pihak UGM.

"Sejauh ini kami belum ada komunikasi dengan UGM, kami sedang fokus dengan proses pendampingan, saya dapat informasi bahwa rektor akan memberikan pendampingan. Namun sejauh ini belum ada komunikasi. Belum sampai kesana," jelasnya

Kabid Humas Polda DIY, AKBP Yuliyanto menerangkan jika pemanggilan kembali Balairung dilakukan untuk melengkapi proses penyidikan bukan karena adanya kriminalisasi terhadap Balairung.

Baca: Dekan FISIPOL UGM Apresiasi Pemberitaan Balairung Press

"Berarti ada keterangan yang dianggap perlu oleh penyidik dari saksi. Bisa saja Balairung pada tanggal sebelumnya sudah diperiksa, terus ada yang perlu diperiksa lagi, ya tidak apa-apa. Mau dipanggil beberapa kali juga tidak apa, yang penting bisa terang. Kalau kriminalisasi, itu tidak ada. Kalau kriminalisasi, orang tidak dilaporkan kemudian dicari kesalahannya. Kenapa kita cari yang tidak ada kesalahannya," jelasnya

Yuliyanto menerangkan jika pemanggilan dan pertanyaan yang diajukan oleh penyidik semata-mata untuk membuat terang peristiwa.

"Pertanyaan penyidik itu dalam rangka membuat terang peristiwa itu. Metode pertanyaan seperti apa, itu keahlian dari penyidik," katanya. (TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: Siti Umaiyah
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved