Rektor UGM Bantah Pihaknya Menolak Bertemu ORI DIY

Rencana pertemuan sendiri sempat gugur berkali-kali, hingga akhirnya terealisasi pada Selasa (08/01/2019) di Kantor ORI DIY.

Rektor UGM Bantah Pihaknya Menolak Bertemu ORI DIY
Tribun Jogja/ Alexander Ermando
Rektor UGM Panut Mulyono (tengah) didampingi Wakil Rektor Bidang Kerjasama dan Alumni Paripurna (kiri) 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Alexander Ermando

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Rektor UGM, Panut Mulyono, membantah telah menolak pertemuan dengan ORI DIY.

Rencana pertemuan sendiri sempat gugur berkali-kali, hingga akhirnya terealisasi pada Selasa (08/01/2019) di Kantor ORI DIY.

"Saya sama sekali tidak menolak, saya tetap menghormati lembaga mana pun yang ingin mengundang sebagai Rektor UGM," tegas Panut seusai pertemuan tertutup dengan ORI DIY, Selasa (8/1/2019).

Sebelumnya, ORI DIY mengajukan 2 kali panggilan kepada Rektor UGM, bahkan datang langsung ke kompleks kampus di Bulaksumur tersebut. Namun keduanya tak terlaksana.

Ketua ORI DIY, Budi Masturi, bahkan sempat menyatakan akan memanggil paksa Rektor UGM untuk memberikan keterangan di Kantor ORI DIY.

Wakil Rektor Bidang Kerjasama dan Alumni UGM, Paripurna, menjelaskan saat pemanggilan pertama di 19 Desember 2018, Rektor berhalangan karena saat itu bertepatan dengan Dies Natalies UGM.

"Saat itu ada tamu-tamu VIP, seperti para Menteri, jadi Rektor wajib hadir di situ," jelas Paripurna.

Pada pemanggilan kedua tanggal 31 Desember 2018, ORI DIY datang ke UGM tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Saat itu Panut sedang mengadakan rapat terkait hasil laporan Tim Etik UGM mengenai kasus pelecehan seksual tersebut.

Menurut Paripurna, setelah berdiskusi melalui pesan instan, akhirnya disepakati jika pihak UGM cukup menunggu apabila ada surat pemanggilan dari ORI DIY.

"Akhirnya baru terlaksana hari ini," kata Paripurna.

Pertemuan tertutup antara jajaran Rektorat UGM dan ORI DIY berlangsung selama satu jam lebih.

Menurut Ketua ORI DIY Budi Masturi, pihaknya mengajukan 7 pertanyaan kepada Rektor dan jajarannya.

"Pertanyaannya seputar peran dan penugasan Rektor dalam penanganan kasus tersebut," kata Budi. (*)

Penulis: Alexander Aprita
Editor: ton
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved