Bantul

Musim Angin Kencang dan Gelombang Tinggi, Sebagian Nelayan Pantai Depok Pilih Tidak Melaut

Ketika Musim Angin Kencang dan Gelombang Tinggi, Sebagian Nelayan Pantai Depok Pilih Tidak Melaut

Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Hari Susmayanti
Tribunjogja/ Ahmad Syarifudin
Perahu nelayan Pantai Depok, Bantul diparkirkan di tepai pantai karena para nelayan memilih untuk tidak melaut setelah terjadi gelombang tinggi di Pantai Selatan DIY. 

Laporan Reporter Tribun Jogja Ahmad Syarifudin

TRIBUNJOGJA.COM - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) merilis potensi terjadinya gelombang tinggi di sejumlah wilayah di Indonesia.

Para nelayan di Pantai Depok, Kabupaten Bantul sebagian ada yang memilih tetap melaut. Namun banyak di antaranya yang lebih memilih tidak melaut.

Alasannya, karena mereka takut dan kemampuan kapal menghadapi gelombang berbeda-beda.

"Sudah empat hari ini saya nggak melaut. Karena takut (angin kencang dan gelombang tinggi)," kata Sadiman, nelayan Pantai Depok, ditemui kemarin.

Baca: Pemkot Yogya Pastikan Pencurian Guiding Block di Jalan Suroto akan Dilaporkan ke Polisi

Baca: 7 Fenomena Langit di Januari 2019 : Mulai dari Supermoon, Gerhana Total Hingga Penampakan Venus

Tidak melaut sama artinya tidak ada pemasukan. Sadiman menyiasatinya dengan cara menghemat keuangan keluarga, supaya bisa tetap bertahan.

Kadang, untuk mengisi waktu luang, Sadiman memilih bekerja mencari rumput untuk makanan ternak. Ia mengaku memiliki beberapa ekor kambing sebagai simpanan atau tabungan.

Baca: Awan Tsunami Membahayakan Penerbangan, Bisa Bekukan Mesin Pesawat

"Kadang juga cari pasir di sungai. Nanti kalau ada tetangga yang butuh bantuan, saya bantu. Dapat upah. Mengisi waktu (tidak melaut) bekerja apa saja, serabutan," tuturnya.

Sadiman saat ini berusia 51 tahun. Ia mulai tekun menjadi nelayan sejak tahun 2001 silam. Artinya, saat ini sudah 17 tahun lebih, Sadiman menggantungkan hidup sebagai nelayan di Pantai Depok Bantul.

Baca: Penampakan Gulungan Awan Tsunami yang Mirip dengan yang Terjadi di Makassar

Baca: Rekomendasi 5 Warung Bakmi dan Nasi Goreng Enak di Bantul

Penghasilan menjadi nelayan menurutnya tak menentu. Kadang, ketika tangkapan ikan sedang bagus, sekali melaut bisa mendarat dengan bawa pulang hasil cukup banyak. Dari satu juta hingga tiga juta rupiah.

"Tapi pas lagi sepi. Modalnya (solar) habis banyak, malah nggak dapat ikan sama sekali," ungkap dia.

Hal senada juga diamini oleh nelayan Pantai Depok yang lain, Tugiran (44). Karena angin kencang, ia sudah beberapa hari ini juga tidak melaut. Padahal, menurut dia, tangkapan ikan di laut saat ini lumayan bagus.

Terbukti, nelayan yang nekat pergi melaut bisa membawa hasil ikan Layur dan Ikan Bawal. Harga kedua ikan tersebut di tempat Pelelangan cukup bagus.

Baca: Dari Pulau Misterius hingga Kastil Telantar Makin Diminati Para Traveller

Ikan Layur dibanderol dengan harga Rp 25 ribu/kg sedangkan ikan Bawal dihargai menurut ukuran ikan. Semisal ikan Bawal 5 ons up Rp 250 ribu/kg, ikan Bawal 4 ons up Rp 200 ribu/kg dan lebih kecil lagi 3 ons up Rp 150 ribu/kg.

Meski tangkapan saat ini cukup bagus. Tugiran memilih tidak melaut karena tidak mau ambil resiko. Katanya terlalu berbahaya. Ia lebih memilih menunggu.

"Anginnya kencang. Jika dipaksakan melaut cukup bahaya. Tunggu sampai tenang," ungkap dia. (tribunjogja)

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved