Kota Yogya

Pemkot Yogya Pikirkan Cara Tingkatkan Length of Stay

Pemerintah Kota Yogyakarta tengah berupaya memikirkan cara agar lama tinggal atau length of stay wisatawan di Kota Yogyakarta meningkat.

Pemkot Yogya Pikirkan Cara Tingkatkan Length of Stay
TRIBUNJOGJA.COM / Suluh Pamungkas
Berita Kota Yogya 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Kurniatul Hidayah

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pemerintah Kota Yogyakarta tengah berupaya memikirkan cara agar lama tinggal atau length of stay wisatawan di Kota Yogyakarta meningkat.

Pelaksana Tugas (PLT) Kepala Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta, Yunianto Dwi Sutono berharap agar ke depan lama tinggal mereka mencapai dua hari.

"Lama tinggalnya untuk domestik belum sampai 2 hari. Ya masih sekitar 1,9 sekian kalau dirata-rata. Tapi angka pastinya kami belum dapat," bebernya pada Tribunjogja.com, Kamis (27/12/2018).

Ia menjelaskan bahwa posisi Kota Yogyakarta saat ini ialah penyedia jasa hotel, belanja, meski ada juga destinasi wisata meski tidak memiliki wisata alam seperti daerah yang ada di sekitarnya.

Ia pun menyebut penambahan jam operasional Taman Pintar dan Pasar Beringharjo hingga malam hari adalah untuk memfasilitasi wisatawan yang tiba di kota pada malam hari.

"Meskipun wisatawan ingin ke pantai atau gunung, tapi tinggalnya di Yogya. Tingkat hunian hotel untuk Yogya menjadi yang tertinggi di DIY, sesuai dengan harapan kita agar wisatawan menginapnya di Yogya," ujarnya.

Bersiap menyongsong era New Yogyakarta International Airport (NYIA) pada 2019 nanti, ia bersama stakeholder terkait berupaya untuk bisa mempertahankan Kota Yogyakarta sebagai magnet bagi wisatawan untuk bermalam maupun mencari hotel dan penginapan.

Baca: Apresiasi Jajaran dan Masyarakat, Pemkot Yogyakarta Gelar Wali Kota Mengapresiasi 2018

"Memang tidak menutup kemungkinan bahwa daerah lain juga mulai berbenah untuk menyiapkan akomodasi terbaik dengan adanya NYIA. Tapi kami juga melakukan upaya agar wisatawan tetap memilih Yogya untuk mereka bermalam," tambahnya.

Upaya tersebut disebutkan Yunianto adalah dengan menyediakan layanan yang berkualitas, misalkan segala sesuatu sudah memenuhi SOP dan juha bersertifikasi.

"Lama tinggal wisatawan ini penting, terutama menyumbang angka yang tidak sedikit dalam PAD (Pendapatan Asli Daerah). Selain itu juga terkait multiplier effect," sebutnya.

Sebelumnya, Wakil Wali Kota Yogyakarta Heroe Poerwadi menjelaskan bahwa pihaknya sudah melakukan diskusi bersama PHRI dan juga pelaku usaha yang lain terkait membangun iklim usaha menyongsong beroperasinya New Yogyakarta International Airport (NYIA) tahun 2019.

Baca: Menuju Smart City, Pemkot Yogya Mulai Merangkul Mitra Kerja

"Kebijakan apa yang bisa diambil agar pelaku usaha bisa mengambil keuntungan dan jadi pemain utama. Karena selama ini kita tergantung penerbangan Bali dan Jakarta. Nanti penerbangan dari luar langsung ke sini, maka kita harus punya sikap agar Yogya menjadi magnet utama yang ada di Jawa," ujarnya, di ruang kerjanya, Selasa (18/12/2018).

Ia mengatakan bahwa saat ini pihaknya sedang mengupayakan agar Yogya sebagai gerbang wisata di Jawa tahun 2019 dapat terwujud.

"Termasuk moratorium, untung ruginya harus dikaji, dan didiskusikan. Saat ini juga banyak beredar penginapan tidak berizin tapi sudah ikut sistem online, ada hotel ada homestay. Ini didiskusikan," bebernya.(*)

Penulis: kur
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved