Iran Anggap Sejak Awal Kehadiran AS di Suriah Memicu Instabilitas Kawasan

Ini merupakan pernyataan pertama Kemenlu Iran sejak Presiden AS Donald Trump memutuskan menarik pasukan

Iran Anggap Sejak Awal Kehadiran AS di Suriah Memicu Instabilitas Kawasan
Sputnik
Pemerintah AS saat ini memiliki 19 pangkalan militer besar maupun kecil di Suriah, dan 22 pangkalan lain ada di sekitar Suriah. Fasilitas itu digunakan untuk melatih dan mempersenjatai kelompok militan yang dikirim untuk menggoyang pemerintah Bashar Al Assad. 

TRIBUNJOGJA.COM, TEHERAN – Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan, kehadiran pasukan tempur AS di Suriah telah menghancurkan stabilitas keamanan kawasan.

Ini merupakan pernyataan pertama Kemenlu Iran sejak Presiden AS Donald Trump memutuskan menarik pasukannya dari Suriah.  

“Kehadiran pasukan AS sejak awal secara prinsip sudah salah, langkah tidak masuk akal dan memicu instabilitas keamanan di wilayah ini,” kata juru bicara Kemenlu Iran, Bahram Ghasemi lewat channel Telegram dikutip Aljazeera, Sabtu (22/12/2018).

Sejak perang meletus di Suriah, Teheran menjadi pendukung kunci pemerintah Suriah. Rusia kemudian menceburkan diri dalam peperangan setelah diminta bantuan oleh Presiden Bashar Assad.

Iran mengirimkan kontingen militer terdiri perwira dan penasihat dari Garda Republik Iran, guna membantu pasukan Suriah bekerja di lapangan. Secara berkala Iran juga mengapalkan senjata dan amunisi ke negara itu.

Pasukan AS dating ke Suriah tanpa undangan dan tanpa restu serta mandate PBB. Mereka masuk dari Irak dan Yordania, membangun koalisi dengan kelompok Kurdi serta mendirikan banyak pangkalan darat di Suriah utara/timur.

Lebih kurang ada 4.000 personil terdiri prajurit organik, kontraktor swasta, staf diplomatik, dan intelijen bertebaran di berbagai front. Alasan mereka adalah ingin menumpas kelompok militant bersenjata ISIS (Daesh).

Penarikan pasukan tempur AS diperkirakan akan tuntas tiga bulan ke depan. Keputusan Trump ini terindikasi membuat guncangan di pemerintahannya. Menhan Jim Mattis mengundurkan diri dari jabatannya per Februari 2019.

Jika pasukan AS benar-benar meninggalkan Suriah, kemungkinan akan menimbulkan kekosongan kekuatan yang selama jadi pendulum di perbatasan Suriah-Turki. Kelompok Kurdi kehilangan pelindung utamanya.’’

Terkait perkembangan ini, elite-elite Kurdi bergerak cepat mencari solusi guna mengamankan posisi mereka. Ada yang berunding dengan pemerintah Damaskus, ada yang berusaha membujuk Prancis menggantikan peran AS.

Ilham Ahmed, salah seorang petinggi Syrian Defence Forces (SDF) di Paris memperingatkan mundurnya AS akan mengguncang kawasan. Radikalisme ISIS akan bangkit lagi.

Hal senada diungkapkan Sami Nader, Direktur Institut Levant untuk Masalah Strategis. Kekosongan kekuasaan akan terjadi jika tidak ada pergerakan cepat dari pihak pengganti kekuatan AS.

“Sepertinya keputusan ini tidak berbais visi strategis, sebab kontras dengan strategis utama Washington selama ini,” kata Sami Nadir. “Tujuan utama AS di wilayah ini adalah menghadapi Iran,” lanjutnya.

"Pertanyaan besarnya, siapa yang akan mengisi kekosongan ini. Mungkin Turki, mungkin Prancis, belum jelas,” tandas Sami Nadir.

Rusia kemungkinan secara mengejutkan akan mengambilalih kontrol atas kawasan luas yang ditinggalkan AS. Secara hubungan, Moskow memiliki hubungan sangat baik saat ini dengan Turki. (Tribunjogja.com/ Aljazeera/xna)

Penulis: xna
Editor: ton
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved