AS Tarik Pasukan dari Suriah, Turki Tunda Operasi Memburu Pejuang Kurdi

Presiden Turki Reccep Tayyip Erdogan menyatakan menunda operasi militer memburu pejuang bersenjata Kurdistan

AS Tarik Pasukan dari Suriah, Turki Tunda Operasi Memburu Pejuang Kurdi
ABC/Reuters/Rodi Said
konvoi kendaraan militer AS bersama kelompok bersenjata YPG Kurdistan di wilayah Suriah 

TRIBUNJOGJA.COM, ANKARA – Presiden Turki Reccep Tayyip Erdogan menyatakan menunda operasi militer memburu pejuang bersenjata Kurdistan di Suriah Utara.

Pernyataan ini disampaikan Erdogan di Istanbul, Sabtu (22/12/2018) dini hari WIB. Pada kesempatan itu, Erdogan menyambut baik rencana penarikan pasukan AS dari Suriah.

Bertempur Sendirian, Komandan ISIS Tewas Hadapi Pasukan SDF Kurdi

Pada hari yang sama, Erdogan menerima kunjungan Presiden Iran Hassan Rouhani di Ankara. Kedua pemimpin menyampaikan perkembangan terkini hubungan dan sikap mereka di Timur Tengah.

“Tentu, ini operasi ini fleksibel. Kami menundanya saja,” kata Erdogan dikutip Aljazeera.com, sembari menegaskan Turki akan terus memerangi kelompok ISIS yang berada di seberang perbatasan Turki-Suriah.

Erdogan yang kini muncul sebagai tokoh penting di Timur Tengah, mengingatkan target ke depan adalah membersihkan wilayah utara Suriah dari kelompok ISIS dan kelompok bersenjata Kurdi.

Inilah Alasan Trump Keluar dari Suriah, Faktor Turki Sangat Menentukan

"Kita lihat bulan depan, target kita membersihkan kelompok bersenjata YPG (Kurdish People's Protection Units) dan elemen Daesh (ISIL) di tanah Suriah,” kata Erdogan.

YPG adalah sayap militer Partai Pekerja Kurdistan (PKK) yang dilarang Turki. Etnis Kurdi mendominasi wilayah perbatasan Irak, Iran, Suriah, Turki. Mereka sejak lama ingin mendirikan negara sendiri.

Hubungan Turki-AS memanas seiring dukungan Washington terhadap kelompok Kurdi Suriah. Pentagon sejak lama menyuplai persenjataan dan memberi pelatihan militer kepada mereka.

AS menjadi sekutu utama Syrian Defence Forces (SDF), kelompok bersenjata Kurdi yang jauh lebih besar. Mereka menguasai wilayah sangat luas dari Raqqa hingga sepanjang perbatasan Suriah-Irak dan Turki.

Tokoh SDF, Ilham Ahmed, memperingatkan, mundurnya AS dari Suriah bisa membahayakan stabilitas kawasan. SDF pun bergerak cepat melakukan perundingan dengan pemerintah Damaskus.

Elite lain berunding dengan pemerintah Prancis di Paris. Pasukan Prancis sejauh ini masih bertahan di Suriah utara, belum ada keputusan mengikuti langkah Trump menarik armada tempurnya.(Tribunjogja.com/ Aljazeera/xna) 

Penulis: xna
Editor: mon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved