Ekonomi

Kualitas Produk jadi Kendala Pelaku UMKM Untuk Berkembang

Kualitas Produk jadi Kendala Pelaku UMKM Untuk Berkembang. Untuk Itu Peningkatan Kwalitas SDM Perlu Dilaksanakan Guna Menghasilan Produk Berkualitas.

Istimewa
Konsultan Produktifitas UMKM yang juga Direktur Operasional Sogan Batik Rejodani, Faizuddin Firdaus saat menunjukkan salah satu koleksi batik Sogan 

Laporan Reporter Tribun Jogja Noristera Pawestri

TRIBUNJOGJA.COM - Guna mendukung ekonomi nasional, pemerintah terus mendorong penguatan Usaha Kecil, Mikro dan Menengah (UMKM).

UMKM menjadi salah satu kekuatan ekonomi yang mampu menyerap banyak tenaga kerja.

Konsultan Produktifitas UMKM yang juga Direktur Operasional Sogan Batik Rejodani, Faizuddin Firdaus mengatakan, para pelaku UMKM saat ini terkendala soal keuangan.

Lanjut Faiz, masalah utama pelaku UMKM tersebut yakni sulit untuk berkembang.

Baca: Permudah Pembayaran Retribusi Sampah, Pemkab Sleman Gandeng BPD DIY Luncurkan E-Retribusi Sampah

Oleh sebab itu, sangat penting bagi para pelaku UMKM untuk mengetahui dan memperhatikan bagaimana cara mengelola operasional bisnis.

"Saat proses operasional bisnisnya tidak bagus, maka kualitasnya jelek, efisiensinya turun, dan itu yang menyebabkan pelanggan tidak mendapatkan produknya dengan baik," kata Faiz, Kamis (20/12/2018).

Untuk itu, menjadi proritas utama bagi UMKM supaya bisa memperbaiki kualitas produk untuk mendapatkan hasil yang memuaskan.

Yakni dengan cara bagaimana membuat para pelanggan tertarik dengan produk yang dipasarkan melalui perbaikan pada produksi dan peningkatan kualitas.

Baca: Luhut: NYIA Layani Enam Penerbangan Internasional Sehari di April 2019

Berbicara soal kendala-kendala operasi, kata Faiz, permasalahan tersebut kerap terjadi selama ini, utamanya dari segi kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM).

"Kendala utamanya, khusus terkait dengan SDM, selama ini saya yakin berapa UMKM atau manufaktur lain juga merasakan kendala yang sama," lanjutnya.

Menurut dia, hal terpenting yakni bagaimana para UMKM mampu membuat aturan-aturan baku dan disepakati bersama dalam menjalankan aktivitas berproduksi.

Dengan begitu, aturan tersebut akan menghilangkan rasa senioritas di dalam status pekerjaan yang mana orang baru seringkali terkalahkan oleh orang lama yang berimbas terjadi konflik.

"Dan bersamaan dengan itu maka kepercayaan pihak pemberi keuangan mungkin partner atau investor dia merasa yakin bahwa produk kita baik karena kita lakukan proses perbaikan di dalam manajemen perlahan-lahan tapi pasti meningkat lebih baik," ujarnya. (tribunjogja)

Penulis: Noristera Pawestri
Editor: Hari Susmayanti
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved