Sejarah Jawa Kuna

Tentang Tanah Sima Menurut Ahli Jawa Kuna Riboet Darmosoetopo

Penemuan dan studi terbaru lingga bertulis di Dusun Kauman, Desa Ngrundul, Kebonarum, Klaten, meski belum lengkap terkuak isinya.

Tentang Tanah Sima Menurut Ahli Jawa Kuna Riboet Darmosoetopo
Tribun Jogja/ Setya Krisna Sumargo
Dr Riboet Darmosoetopo membaca tulisan Jawa Kuna dalam lingga prasasti dari Ngrundul, Kebonarum, Klaten. Epigraf senior ini juga ahli tentang sima dan bangunan ibadah masa kuna. 

TRIBUNJOGJA.COM - Penemuan dan studi terbaru lingga bertulis di Dusun Kauman, Desa Ngrundul, Kebonarum, Klaten, meski belum lengkap terkuak isinya, membuka diskusi tentang penetapan tanah sima.

Satu baris kalimat di prasasti beraksara Jawa Kuna itu mengatakan, "tatkala samgat andehan manusuk sima". Secara sederhana, kalimat itu bisa diterjemahkan, "saat samgat andehan menetapkan sima"

Ada empat unsur dalam kalimat ini. Pertama, penyebutan nama jabatan "samgat". Lengkapnya jabatan ini "sang pamegat", yang diringkas jadi "samgat". Kedua, nama pejabat tersebut adalah "andehan".

Ketiga, apa yang dilakukan adalah "manusuk" atau menancapkan atau menetapkan. Keempat adalah tentang "sima". Epigraf senior Dr Riboet Darmosoetopo menjelaskan, sima itu bisa bersifat perseorangan maupun untuk keperluan bangunan.

Dr Riboet Darmosoetopo membaca tulisan Jawa Kuna dalam lingga prasasti dari Ngrundul, Kebonarum, Klaten. Epigraf senior ini juga ahli tentang sima dan bangunan ibadah masa kuna.
Dr Riboet Darmosoetopo membaca tulisan Jawa Kuna dalam lingga prasasti dari Ngrundul, Kebonarum, Klaten. Epigraf senior ini juga ahli tentang sima dan bangunan ibadah masa kuna. (Tribun Jogja/ Setya Krisna Sumargo)

Sima yang bersifat perseorangan adalah hadiah yang diberikan/diterimakan dari orang yang punya kedudukan lebih tinggi ke bawahannya. "Bisa karena prestasi, jasa, sumbangsih pribadinya, dan pertimbangan lain untuk balas budi," kata Riboet.

Baca: Lingga Bertulis di Kuburan Blabak Magelang Ini Kuak Misteri Tanah Rakai Kayuwangi

"Sedangkan sima juga bisa ditetapkan demi kepentingan bangunan suci, untuk pemeliharaan atau perawatan. Sima ini umumnya berupa pemberian tanah, tegalan, ladang, sawah, dan biasanya akan dibebaskan dari beban pajak dan lain-lain," lanjutnya.

Ada banyak prasasti Jawa Kuna yang menuliskan tentang penetapan sima atau semacam tanah perdikan. Baik dalam bentuk lingga bertulis karena sekaligus sebagai penanda batas sima, atau dalam bentuk prasasti kuna umumnya.

Ada yang berbentuk tablet atau kotak, baik dari batu maupun tembaga (tamra). Contoh prasasti tentang sima yang cukup terang benderang adalah Prasasti Salimar, yang secara khusus pernah diteliti Riboet Darmosoetopo.

Prasasti Salimar yang jumlahnya ada 6 buah berbentuk lingga semu (pseudo lingga) bertulis ini memberi gambaran penetapan hutan Salimar yang membentang dari Prambanan (Sleman) hingga Nanggulan (Kulonprogo).

Dr Riboet Darmosoetopo membaca tulisan Jawa Kuna dalam lingga prasasti dari Ngrundul, Kebonarum, Klaten. Epigraf senior ini juga ahli tentang sima dan bangunan ibadah masa kuna.
Dr Riboet Darmosoetopo membaca tulisan Jawa Kuna dalam lingga prasasti dari Ngrundul, Kebonarum, Klaten. Epigraf senior ini juga ahli tentang sima dan bangunan ibadah masa kuna. (Tribun Jogja/ Setya Krisna Sumargo)
Halaman
123
Penulis: xna
Editor: has
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved