Bisnis

Kantor Perwakilan BEI Yogyakarta Dorong Perusahaan untuk Go Public

BEI Yogyakarta mendorong perusahaan untuk melakukan go public dan mencatatkan efek di PT BEI.

Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM / Yosef Leon
Seorang peserta mengamati layar monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Kantor OJK DIY saat pelaksanan Workshop Go Public dengan tema, 'Peluang Pendanaan Perusahaan Menuju Pertumbuhan yang Optimal Melalui Pasar Modal Indonesia', Kamis (13/12/2018). 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Kantor Perwakilan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Yogyakarta, mendorong perusahaan yang beroperasi di wilayah setempat untuk berkembang melalui sarana pendanaan di pasar modal dengan melakukan go public dan mencatatkan efek di PT BEI.

Selain mendapatkan sumber pendanaan, dengan melakukan go public perusahaan tersebut diharapkan akan bertransformasi menjadi perusahaan dengan implementasi corporate governance yang semakin berkembang.

Kepala Kantor Perwakilan BEI Yogyakarta, Irfan Noor Riza menjelaskan, pada umumnya sejumlah perusahaan memang memanfaatkan sumber pendanaan lewat perbankan.

Namun, sambung dia, pendanaan tersebut bisa juga diperoleh melalui pasar modal.

"Dengan begitu, mereka akan bisa memperkenalkan perusahaannya kepada banyak orang. Selain itu, ketika perusahaan tersebut menjadi go public diharapkan pertumbuhan ekonomi yang merata dapat terwujud dengan keterlibatan masyarakat ketika membeli saham perusahaan tersebut," kata dia pada Tribunjogja.com, di sela Workshop Go Public yang diadakan di Kantor OJK DIY, Kamis (13/12/2018).

Sampai saat ini, Irfan menyampaikan, hanya terdapat dua perusahaan yang telah melakukan go public di BEI, yakni PT Ayana Land International Tbk (NASA) dan PT Sinergi Megah Internusa Tbk (NUSA) yang keduanya sama-sama bergerak di bidang bisnis properti.

Baca: Go-Jek Siap Melantai di Bursa Efek Indonesia?

Menurut Irfan, dua faktor yang mensyaratkan sebuah perusahan untuk bisa go public pada pasar modal masih menjadi kendala bagi sejumlah perusahaan di wilayah DIY untuk melantai di pasar modal.

"Pertama memang syaratnya harus berbentuk PT dan kedua dari sisi intangible assetnya (aset tak berwujud). Rata-rata perusahaan di Yogya masih banyak yang berbentuk UMKM. Walaupun ada dua papan di bursa efek yang pengembangannya mensyaratkan aset tak berwujud senilai Rp5 miliar, tapi banyak yang terkendala dari segi bentuk perusahaan yang masih belum PT," jelasnya.

Dengan demikian, pihaknya akan terus mengidentifikasi kendala apa yang membuat perusahaan masih enggan untuk melakukan go public.

Baca: UKM di DIY Didorong Turut Mendaftar ke Bursa Efek

"Kita juga akan terus berupaya mendorong dan sosialisasikan. Dari BEI juga demikian, rencananya akan mengeluarkan satu papan lagi yakni papan akselerasi yang syaratnya akan lebih mudah dengan harapan UMKM dan perusahaan lain bisa menikmati pasar modal," tambahnya.

Meskipun demikian, berdasarkan catatan BEI partisipasi perusahaan dan institusi dalam negeri ke dalam pasar modal terus mengalami peningkatan.

Per 10 Desember 2018, telah ada 55 emiten saham baru yang tercatat dan secara total keseluruhan emiten BEI telah mencapai 617 emiten saham.

Sementara, total pendanaan dari pasar modal baik ekuitas maupun obligasi mencapai angka hingga Rp771,11 triliun. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved