Bisnis
Serangan Siber Ancam Kedaulatan Digital
Masalah pelik data ada ketika tidak terkontrol, karena kebijakan tersebut sangat ketat diberlakukan di banyak negara terkait data
Penulis: Noristera Pawestri | Editor: Ari Nugroho
Laporan Reporter Tribun Jogja Noristera Pawestri
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Kedaulatan digital memiliki cakupan luas, namun jika dikerucutkan maka berbicara tentang perlindungan data secara menyeluruh terhadap suatu negara.
Data yang dimaksud di sini tidak hanya tentang data warga negara tetapi juga data-data yang dimiliki oleh institusi, baik bisnis maupun terutama institusi pemerintah seperti rahasia negara.
Data bisa berada di lebih dari satu tempat, dapat dibawa melintasi separuh dunia dalam hitungan detik dan dicuri tanpa sepengetahuan pemiliknya.
Technical Consultant PT Prosperita - ESET Indonesia Yudhi Kukuh mengatakan masalah pelik data ada ketika tidak terkontrol, karena kebijakan tersebut sangat ketat diberlakukan di banyak negara terkait data.
Baca: WhatsApp Dipantau Badan Siber, Hoax Lama Bersemi Kembali
Ia mencontohkan, misalnya dengan mewajibkan perusahaan teknologi membangun data center mereka di dalam negeri.
"Lain halnya dengan data usaha atau bisnis yang datanya tertanam dalam infrastruktur perusahaan, musuh terbesar mereka saat ini adalah ancaman targeted attack, yaitu malware yang bertujuan melumpuhkan operasi perusahaan sambil melakukan pencurian data," kata Yudhi pada Jumat (7/12/2018).
Yudhi melanjutkan, bicara soal malware dengan serangan yang ditargetkan pasti akan merujuk pada Stuxnet, BlackEnergy, Industroyer sampai pada Telebots, hal itu akan segera berlalu.
"Sekarang dan masa depan, kita bicara tentang GreyEnergy yang menjadikan malware lebih modern yang canggih," katanya dalam keterangan tertulis yang diterima Tribunjogja.com
Seperti halnya para pendahulunya, GreyEnergy diciptakan untuk mengeksploitasi sistem ICS/SCADA yang rentan diretas karena keterbatasan sistem keamanan.
Ia menambahkan, yang membedakan dari malware sebelumnya adalah ia tidak hanya bertugas untuk melumpuhkan sistem ICS/SCADA, tetapi juga memiliki misi lain sebagai malware pengintai atau spionase.
Baca: Kelompok Dosen Ini Dirikan Jogja Mendaras Data untuk Meningkatkan Literasi Siber
Dalam rangka mengukuhkan kedaulatan digital, pemerintah telah membuat kebijakan pengamanan data dengan mewajibkan penyelenggara layanan elektronik tetap diharuskan memiliki pusat data dan pusat pemulihan bencana di Indonesia.
Sementara dunia usaha harus membangun sistem keamanannya secara komprehensif yakni menggunakan teknologi yang dirancang siap menghadapi ancaman targeted attack, serangan malware yang mengincar sistem ICS/SCADA.
Mengimplementasikan teknologi Network Traffic Analysis dan Endpoint Detection and Response, kata Yudhi, sudah menjadi keharusan untuk setiap perusahaan di belahan dunia mana pun.
ESET berpengalaman dalam menghadapi malware yang berfungsi sebagai targeted attack atau yang mengincar sistem ICS/SCADA
"Teknologi tersebut adalah teknologi yang sudah dikembangkan oleh ESET sejak lama dan dijamin memiliki keandalan saat berhadapan dengan ancaman apa pun,” ujarnya.(TRIBUNJOGJA.COM)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/technical-consultant-pt-proaperita-eset-indonesia-yudhi-kukuh.jpg)