Menilik Asal-usul Gudeg, Kuliner Khas Yogyakarta nan Melegenda Sejak Zaman Mataram

Masih banyak di antara masyarakat yang tidak mengetahui sejarah keberadaan Gudeg.

Menilik Asal-usul Gudeg, Kuliner Khas Yogyakarta nan Melegenda Sejak Zaman Mataram
Tribun Jogja/Hamim Thohari
Gudeg Yu Djum 

Karena banyaknya buah nangka muda/ gori, kelapa, dan daun tangkil/ melinjo, akhrinya mendorong para pekerja untuk membuat makanan dari bahan-bahan tersebut.

Untuk memenuhi makan para pekerja yang jumlahnya begitu besar, nangka muda yang dimasak jumlahnya juga sangat banyak.

Bahkan untuk mengaduknya atau dalam bahasa Jawa disebut hangudek harus menggunakan alat menyerupai dayung perahu.

Dari proses mengaduk/ hangudeg ini makananan yang diciptakan dari nangka muda ini disebut Gudeg.

Gudeg Manggar di Dusun Mangir, Sendangsari Pajangan Bantul.
Gudeg Manggar di Dusun Mangir, Sendangsari Pajangan Bantul. (TRIBUNJOGJA.COM / Ahmad Syarifudin)

Selain itu, gudeg juga tercatat dalam karya sastra Jawa Serat Centhini.

Diceritakan di dalamnya, pada tahun 1600-an saat Raden Mas Cebolang tengah singgah di pedepokan Pengeran Tembayat yang saat ini berada di wilayah Klaten.

Di sana Pengeran Tembayat menjamu tamunya yang bernama Ki Anom dengan beragam makanan, dan salah satunya adalah Gudeg.

Gudeg sejatinya bukanlah makanan yang berasal dari lingkungan kerajaan, melainkan dari masyarakat.

Meskipun demikian, untuk menjadi makanan tradisional yang setenar saat ini, perlu proses yang panjang.

Diungkapkan Murdijati Gardjito, karena gudeg perlu waktu memasak yang lama, pada awal abad 19 di Yogyakarta sendiri belum begitu banyak orang berjualan gudeg.

Halaman
1234
Penulis: mim
Editor: ton
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved