Breaking News:

PSIM Yogyakarta

Pameran Arsip Bawah Skor 'This Is Away', Telusuri PSIM dari Masa ke Masa

Pameran 'This Is Away' diciptakan seusai perjalanan pulang dari pertandingan PSIM di Stadion Manahan Solo, 1998 silam.

TRIBUNJOGJA.COM / Hanif Suryo
Pengunjung menikmati pameran arsip 'This Is Away' yang diinisiasi Bawah Skor di Kedai Kebun Forum, Jumat (16/11/2018). 

TRIBUNJOGJA.COM- Pameran arsip lawas kumpulan pemberitaan mengenai tim PSIM Yogyakarta dari masa ke masa mengantar imajinasi orang yang mengunjungi pameran bertajuk 'This Is Away' yang diinisiasi Bawah Skor di Kedai Kebun Forum, Yogyakarta, dibuka Jumat (16/11/2018) hingga 3 Desember 2018 mendatang.

Inisiator Bawah Skor, Dimaz Maulana menjelaskan pameran 'This Is Away' terinspirasi dari penggalan lirik lagu berjudul Stone War milik band Dom 65 yang diciptakan seusai perjalanan pulang dari pertandingan PSIM di Stadion Manahan Solo, 1998 silam.

Baca: Yoga Pratama, Gelandang Muda Andalan Lini Tengah PSIM

"Latar belakangnya awalnya semacam pertanyaanku sebagai seorang suporter. Ketika mencoba mengkroscek ulang sejarah tim, arsipnya tersebar. Padahal, kita harus tahu sejarah kita, menelusuri ulanglah istilahnya," kata inisiator Bawah Skor, Dimaz Maulana pada Tribunjogja.com.

"Kali ini presentasi saya tentang suporter, yang bertandang. Suporter yang berangkat away. Alasannya laga tandang menarik ketika kita bicara sepakbola. Porsi utama ketika kamu nonton sepakbola. Ketika suporter tidak ikut serta bertandang, dia pasti merasa turut merasakan dinamika yang terjadi baik dijamu suporter tuan rumah, kerusuhan," ungkap lulusan Fakultas Ilmu Sejarah UGM tersebut.

Ya, mulai 2012 Dimaz rutin menyambangi Jogja Library Center yang terletak di Jalan Malioboro guna mengumpulkan arsip-arsip perjalanan tim PSIM Yogyakarta melalui arsip pemberitaan media cetak.

Rangkaian perjalanan tandang dari masa ke masa yang Dimaz kemas ia harapkan bisa memberi pengetahuan lebih luas mengenai seluk beluk dunia suporter, bukan hanya bagi publik pecinta sepakbola namun juga bagi masyarakat awam.

Dimaz tak hanya menelusuri jejak sejarah melalui arsip, namun ia juga mewawancara beberapa korban bentrok suporter untuk mengetahui secara detail kejadian.

Baca: Mengintip Usaha Sampingan Menarik Milik Pesepakbola PSIM Yogyakarta

"Ketika generasi yang kebih tua 20 tahun di atas saya, punya cerita heroik bagaimana ketika PSIM tandang ke Solo, dan berakhir rusuh. Cerita itu nyaris menjadi semacam mitos, karena semua orang bisa menceritakan semua itu," kata Dimaz.

"Saya lalu wawancara beberapa orang yang terlibat pada kejadian tersebut, untuk kemudian saya rangkai untuk mendapat gambaran ceritanya. Harapannya bisa memberikan pengalaman baru, lalu jadi tahu seluk beluk suporter lebih luas. Dewasa ini suporter punya andil mewarnai dinamika kota, baik rusuh, atau kreasinya,"

"Akan ada dua publik, bola dan non bola. Misal pertandingan antara tim A dan tim B yang memiliki potensi rusuh, setidaknya publik non bola bisa tahu dan menghindari risikonya," pungkasnya. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved