Sleman

Pelaku Usaha di Sleman Banyak yang Belum Terdaftar

Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah terus berupaya untuk meningkatkan geliat usaha mikro kecil dan menengah

Tayang:
Penulis: Santo Ari | Editor: Ari Nugroho
TRIBUNJOGJA.COM / Suluh Pamungkas
Berita Sleman 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah terus berupaya untuk meningkatkan geliat usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

Salah satunya dengan menggelar Festival UMKM Sembada yang akan dilaksanakan pada 8 November di rumah dinas bupati sleman

Kepala Dinas Koperasi UKM, Pustopo saat ditemui Senin (5/11/2018) berharap dengan diadakannya kegiatan ini dapat mendorong UMKM memiliki kemampuan dan daya saing.

Selain itu ia juga berharap muncul orang-orang baru yang terjun di UMKM.

"Jangan sampai UMKM itu identik dengan ibu-ibu yang sepuh, tapi bagaimana kita memunculkan pengusaha UMKM dari lulusan dari perguruan tinggi," tuturnya.

Baca: Perkuat Produk Lokal, Pemkab Sleman Akan Gelar Festival UMKM 2018

Meskipun angka pelaku usaha tinggi di Kabupaten Sleman, tapi banyak yang belum terdata.

Fahmi Khoiri Kabid Usaha Mikro memaparkan dari hasil sensus ekonomi Badan Pusat Statistik tahun 2016, Sleman memiliki 137 ribu pelaku usaha mikro.

Namun hingga kini jumlah yang terdata di dinas hanya mencapai angka 36 ribu, di mana 90 % berasal dari pelaku usaha mikro.

"90% merupakan pelaku usaha mikro dengan modal maksimal Rp 50 juta atau omzet maksimal Rp 300 juta per tahun,"terangnya.

Dari data statistik yang dimilikinya, tujuh bidang yang paling banyak pelaku usahanya yakni perdagangan dan jasa, kuliner, fashion, otomotif, agrobisnis,teknologi informasi dan pendidikan.

Baca: 74 Produk UMKM Sleman Dipamerkan di Pasar Lebaran

"Banyak pelaku usaha di Sleman tapi belum tumbuh kesadaran untuk mendaftarkan diri. Padahal izin sekarang cukup mudah, izin usaha mikro cukup di kecamatan. Selain itu, pelaku usaha yang mendaftarkan HAKI juga sedikit, padalah kita juga ada anggaranya untuk membantu mereka," terangnya.

Dengan mendaftarkan diri, maka pihak pemerintah pun dapat membantu para pelaku usaha ini, baik dari segi pembinaan maupun penyampaian informasi yang lain.

Sedangkan Hak kekayaan intelektual ini, menurut Fahmi sangat penting yakni sebagai identitas produk sekaligus agar karya mereka tidak ditiru orang.

Selain ketika sudah memiliki identitas, maka dapat berpengaruh juga kemajuan pemasaran mereka.

Yuli afriyandi, konsultan dari Pusat Layanan Usaha Terpadu, membenarkan hal tersebut. Menurut Yuli, ini terkait kesadaran para pelaku usaha yang masih rendah.

"Mereka belum sadar bahwa produk itu harus dilindungi, baik merk maupun desainya. Ada juga yang sudah sadar tapi tidak tahu bagaimana untuk mengakses. Prosedur legalitas juga masih lama, panjang dan mahal," terangnya.

Baca: Candi Kedulan, Primadona Baru Wisata Bersejarah di Sleman

Secara spesifik, Yuli menuturkan kendala-kendala yang sering dialami oleh pelaku usaha, seperti akses untuk mendapatkan permodalan.

Menurutnya, program pemerintah terkait dengan permodalan sudah banyak, misal KUR, tetapi kemampuan mereka untuk mendapatkan informasi terkait proses dan persayaratannya yang masih minim.

Permasalahan kedua adalah akses pemasaran. Ia menyebut bahwa pasar produk di ASEAN, 40 persennya ada di Indonesia.

Namun demikian banyak pelaku usaha di Sleman masih belum mampu untuk melihat pasar itu.

"Mereka butuh pendampingan. Misal, terkait informasi kebutuhan pasar, tren produk dan segmentasi pasar," tambahnya.

Baca: Genjot Potensi UMKM Sleman Buka Sunday Morning Sembada

Permasalah lain adalah menegarial serta produksi.

Ia menilai produk UMKM terkesan mahal karena biaya produksi yang tinggi juga.

Maka dari itu para pelaku ini perlu memiliki metode memproduksi secara efisien, termasuk memaksimalkan sosial media untuk pemasarannya.

Maka dari itu, Festival UMKM Sembada ini bisa bermanfaat untuk pendekatan kolaboratif, karena UMKM tidak bisa jalan dan hidup sendiri.

Perlu ada campur tangan pemerintah, dan swasta selain para pelaku itu sednri.

Selain bazar, berbagai rangkain talkshow digelar untuk menumbuhkan pengetahuan para pelaku usaha dalam berkarya.

Seperti tema memanfaatkan sumber daya lokal tapi bisa bersaing secara global, memunculkan wirausahawan pemula, serta pemanfaatan teknologi informasi.(TRIBUNJOGJA.COM)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved