Kota Yogyakarta

Banyak Hal yang Harus Disiapkan ketika Malioboro Dijadikan Semi Pendestrian

Berkaitan dengan rencana Pemerintah DI Yogyakarta untuk menjadikan kawasan Malioboro sebagai semi pendestrian haruslah memperhatikan banyak aspek.

Banyak Hal yang Harus Disiapkan ketika Malioboro Dijadikan Semi Pendestrian
TRIBUNjogja.com | Bramasto Adhy
Jalan Malioboro 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Berkaitan dengan rencana Pemerintah DI Yogyakarta untuk menjadikan kawasan Malioboro sebagai semi pendestrian haruslah memperhatikan banyak aspek.

Misalnya saja, kesiapan kantong parkir, pengalihan jalan, serta jalur khusus untuk menuju hotel/pusat perbelanjaan yang ada di kawasan Malioboro

Dewanti, Peneliti dari Pusat Transportasi dan Logistik UGM menjelaskan, sudah sejak lama Malioboro dikonsep menjadi kawasan yang diprioritaskan bagi pejalan kaki dan kendaraan umum.

Yang mana jumlah kendaraan pribadi nantinya tidak boleh masuk kawasan Malioboro.

Baca: Kebiasaan Buang Sampah Sembarangan Coreng Citra Malioboro

"Sebenarnya kalau konsep pendestrianisasi, kawasan Malioboro sudah lama. Nanti diprioritaskan bagi pejalan kaki, kemudian kendaraan yang masuk ke Malioboro dibatasi. Memang secara umum seperti di negara yang tranportasinya maju, pusat kota itu dibatasi jumlah kendaraan yang bisa masuk, yang diprioritaskan angkutan umum, sepeda (tidak bermotor), kendaraan emergency seperti ambulan, pemadam kebakaran, atau tamu negara boleh masuk," terangnya.

Menurutnya yang paling penting adalah menyediakan kantong-kantong parkir.

Dia melihat penyediaan kantong parkir untuk saat ini agak sulit.

Seperti halnya mobil, yang biasanya harus parkir di kawasan mall atau hotel yang ada di sepanjang jalan Malioboro ketika ingin ke kawasan Malioboro.

Baca: Uji Coba Malioboro Tunggu Rapat Koordinasi

"Persoalan kendaraan yang lain gimana. Memang yang penting menyediakan kantong parkir bagi kendaraan pribadi, seperti kita lihat di DIY. Kalau sepeda motor sudah ada di parkiran Abu Bakar Ali. Mobil juga perlu kantong parkir. Kalau sekarang kita lihat orang kalau parkir mobil di Mall atau di hotel, nah ini harus dipikirkan, kan nanti jalur untuk masuk ke mall dan hotel juga tidak bisa," terangnya

Oleh karenanya, jika nantinya rencana tersebut benar-benar akan direalisasikan, maka kesiapan angkutan umum yang memadai juga harus dipikirkan.

"Ya kalau saya melihat, memang pesannya orang kalau ke pusat kota disarankan menggunakan angkutan pribadi. Akan tetapi, persoalan berikutnya bagaimana dengan tamu hotel yang ada di jalan Malioboro, artinya akses melewati Malioboro, ini juga dipikiran akses ke hotel bagaimana," katanya.

Selain itu, dia melihat, adanya dampak negatif yang akan ditimbulkan berkenaan dengan kemacetan di jalan yang dijadikan pengalihan arus.

"Dampak negatif pasti ada. Kalau tidak boleh ke Malioboro pasti kan harus pindah ke jalan lain, apakah lewat Mataram atau yang lain. Nah itu juga harus dipikirkan, kemacetan yang ditimbulkan ketika arus ini dialihkan. Selama orang tidak berpindah ke angkutan umum, kemacetan juga akan terjadi," ungkapnya. (TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: Siti Umaiyah
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved