Kota Yogyakarta

Dinkes Kota Yogya Waspadai Leptospirosis

Leptospirosis memiliki gejala yang hampir mirip dengan masuk angin. Itulah yang kadang membuat orang menganggap seperti penyakit biasa.

Dinkes Kota Yogya Waspadai Leptospirosis
Tribun Jogja/ M Fauziarakhman
Grafis Leptospirosis 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Christi Mahatma Wardhani

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta waspadai penyakit leptospirosis.

Leptospirosis disebabkan oleh bakteri leptospira, yang terbawa pada hewan seperti tikus.

Baca: Meraihkan HUT ke-262 Kota Yogya, Kecamatan Danurejan Gelar Bazar UMKM

Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Endang Sri Rahayu mengatakan kasus leptospirosis perlu diwaspadai pada musim hujan.

Menurutnya jika tidak diwaspadai, leptospirosis berakibat fatal, karena bisa menyebabkan kematian.

"Kalau musim kemarau memang sedikit, tetapi mulai banyak saat musim hujan. Dan kalau tidak diwaspadai bisa fatal. Penyakit ini mulai dari nggak ada gejala sampai parah. Orang kadang nggak menyangka kalau itu leptospirosis," katanya pada Tribunjogja.com, Sabtu (27/10/2018).

Ia menjelaskan leptospirosis memiliki gejala yang hampir mirip dengan masuk angin. Itulah yang kadang membuat orang menganggap seperti penyakit biasa.

"Gejala awal itu seperti masuk angin, panas, pusing, nyeri sendi, terutama otot betis. Kalau ada gejala seperti itu, langsung ke fasilitas pelayanan kesehatan. Apalagi kalau setelah kerjabakti, baik di rumah atau di lingkungan yang berhubungan dengan sampah," jelasnya.

"Harus waspada,langsung bilang ke dokternya kalau setelah kerja bakti. Itu penting, karena untuk tahu leptospirosis harus cek laboratorium," sambungnya.

Terkait penularan, Endang mengungkapkan melalui mata, kulit, terutama kulit yang luka, dan lain-lain.

Oleh sebab itu ia mengimbau masyrakat untuk menjaga kebersihan lingkungan dan kebersihan diri sendiri.

"Untuk mencegah ya jangan sampai ada genangan,karena bisa menular juga lewat air yang terkontaminasi leptospira. Lalu bersihkan sampah di lingkungan, waspada sisa makanan. Yang pasti cegah populasi tikus, karena musim hujan populasinya meningkat. Kalau setelah aktivitas harus cuci tangan, mandi pakai sabun," ungkapnya.

Baca: Dukung Program Smartcity, Disperindag Kota Yogya Targetkan Terapkan QR di Sepuluh Pasar Tradisional

Selain penyakit leptospirosis, Dinkes Kota Yogyakarta juga mewaspadai DBD dan diare.

Meski jumlahnya cenderung turun, namun setiap penyakit perlu diantisipasi sejak dini.

"Leptospirosis itu memang sedkit, puluhan memang, namun kefatalannya itu yang perlu diwaspadai. Kalau dibandingkan dengan DBDdan diare, ya masih jauh. Kemarin DBD mengalami penurunan, menjadi 78 kasus. Karena musim hujan, nanti pasti banyak jentik. Sementara diare perlu diwaspadai daeri makanan," tutupnya.

Penulis: Christi Mahatma Wardhani
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved