Breaking News:

Yogyakarta

Mengintip Ratusan Koleksi Otomotif Kuno di Museum Merpati Yogyakarta

Di museum yang berlokasi di di Jalan KH Ahmad Dahlan No 88 ini, setidaknya ada 300 unit motor kuno, 500 unit sepeda dan 60 unit mobil.

Penulis: rid | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM / Pradito Rida Pertana
Koleksi sepeda kayu kuno dari berbagai jenis dan merek di Museum Merpati 

TRIBUNJOGJA.COM - Berlandaskan rasa ingin menyelamatkan aset motor kuno di Indonesia, seorang pria di Kota Yogyakarta akhirnya memutuskan untuk menjadi kolektor sepeda motor kuno.

Bukan hanya puluhan, namun ratusan sepeda motor telah ia koleksi.

Baca: Museum Air Jogja Bay, Angkat Sejarah Selokan Mataram

Bahkan untuk mengedukasi dan mengingatkan kembali masyarakat akan sejarah, pria tersebut memutuskan membuat sebuah Museum yang berisi kendaraan dan barang-barang kuno.

Adapun Museum yang terletak di tengah Kota Yogyakarta ini dinamainya Museum Merpati.

Tak hanya itu, menurut pemilik Museum bahwa selain untuk mengedukasi masyarakat, alasannya mendirikan Museum tersebut untuk menyenangkan hati orang-orang, khususnya orang-orang yang mencintai sepeda motor.

Bertandang ke Museum yang berada di Jalan KH Ahmad Dahlan No 88, Ngampilan, Kota Yogyakarta, Tribunjogja.com tidak mendapati adanya plang Museum atau sebagainya.

David Sunar Handoko (63) saat menunjukkan koleksi sepeda motor kuno di Museum Merpati miliknya. Tampak puluhan sepeda motor kuno yang berusia puluhan tahun berjejer di ruangan tersebut.
David Sunar Handoko (63) saat menunjukkan koleksi sepeda motor kuno di Museum Merpati miliknya. Tampak puluhan sepeda motor kuno yang berusia puluhan tahun berjejer di ruangan tersebut. (TRIBUNJOGJA.COM / Pradito Rida Pertana)

Ternyata Museum tersebut berada di dalam sebuah tempat penjualan sepeda motor, mengingat di dalam tempat tersebut terdapat puluhan sepeda kayuh jenis onthel kuno.

Masuk ke dalam showroom yang berada tidak jauh dari Titik Nol Kilometer tersebut, Tribunjogja.com akhirnya bertemu dengan pemilik Museum Merpati yakni David Sunar Handoko.

Selanjutnya, pria yang kerap disapa Handoko ini menunjukkan keberadaan Museum yang baru dibuka tahun ini.

Berjalan ke lantai dua bangunan tersebut, Tribunjogja.com mendapati puluhan sepeda motor kuno dari berbagai merek yang dijejer secara horizontal dengan rapi, tampak pula beberapa setrika dan radio kuno terdapat di ruangan yang cukup luas tersebut.

Tak hanya itu, berjalan ke ruang sebelah display sepeda motor kuno berjejer ratusan sepeda kuno dari berbagai jenis dan merek.

Selain di lantai atas, ternyata masih ada puluhan mobil kuno yang terparkir di belakang tempat penjualan sepeda motor itu.

Mobil yang terparkir itu memiliki nuansa klasik yang kental serta jarang terlihat di jalanan Kota Yogyakarta.

Handoko menceritakan, bahwa ratusan barang kuno tersebut sebenarnya barang koleksi miliknya.

Dikatakannya pula, bahwa awal mula dirinya tertarik mengoleksi sepeda motor kuno berawal dari seringnya melihat orang-orang yang lalu lalang menggunakan sepeda motor kuno di depan rumahnya saat.

Karena penasaran, Handoko lalu mengunjungi tempat berkumpul orang-orang tersebut dengan niatan hanya melihat-lihat saja.

Akan tetapi dari hal itu muncul keinginannya untuk memiliki sepeda motor kuno khususnya jenis Harley Davidson.

Keinginan memiliki sepeda motor tersebut kian kuat saat pria berusia 63 tahun ini berkunjung ke Amerika Serikat dan Canada.

Di dua negara tersebut, Handoko melihat banyak orang-orang secara berombongan mengendarai sepeda motor kuno.

Karena penasaran, ia lantas mengobrol dengan rombongan tersebut dan ternyata beberapa sepeda motor kuno yang dipakai rombongan itu dibeli dari Indonesia.

Mengingat saat itu, tepatnya di tahun 1989 harga Harley Davidson masih berkisar Rp2,5 juta.

Merasa kurang yakin bahwa sepeda motor itu didapatkan dari Indonesia, pria yang murah senyum ini mengecek ke beberapa tempat khususnya pelabuhan.

Di tempat tersebut akhirnya ia mendapati bahwa setiap harinya banyak kontainer bermuatan sepeda motor kuno dari Indonesia dengan tujuan luar negeri.

"Waktu itu saya berpikir, kalau caranya gini bisa habis (Motor kuno di Indonesia) dan kalau tidak diselamatkan nanti Indonesia malah tidak punya. Karena itu saya mulai memborong motor kuno tahun 1989, pertama beli Harley Davidson Sportster 1959 harga Rp5 juta. Dari situ saya beli terus sampai banyak sekarang untuk menyelamatkan asetnya Indonesia," katanya, Selasa (11/9/2018).

Dilanjutkan pria yang memiliki usaha showroom kendaraan bermotor dan restoran ini, upaya mendapatkan sepeda motor itu tidaklah semudah yang dibayangkan.

Mengingat Handoko harus mendatangi penjual sepeda motor kuno satu persatu hingga Jakarta, Surabaya, Malang hingga luar negeri.

Dalam perburuannya, Handoko hanya membeli sepeda motor kuno yang hanya diproduksi terbatas, pernah mencapai puncak kejayaan di jamannya serta sepeda motor legendaris.

Dikatakan legengaris karena pernah digunakan untuk keperluan khusus seperti militer, dan pernah dimiliki serta dikendarai orang-orang penting.

"Paling susah cari motor (Kuno) yang hanya diproduksi sedikit," ujarnya.

Namun, dari perburuan sepeda motor kuno yang dilakukannya, Handoko akhirnya memiliki jenis sepeda motor buatan Jepang, Eropa, Amerika, Jerman.

Jenis tersebut antara lain meliputo merek Yamaha, Honda, Suzuki, Kawasaki, Vespa, Lambretta hingga Birmingham Small Arms (BSA), Norton, Indian dan Harley Davidson.

"Yang mendapatkan caranya dengan datangi datuk-datuk motor sendirian, dan akhirnya mereka yang mendatangi untuk menawari sepeda motor. Dari situ dapat bekas punya orang penting, seperti punya Jenderal Polisi (Purn) Hoegeng Imam Santoso dan Letnan Jenderal TNI (Purn) Dading Kalbuadi. Punya pak Hoegeng itu ada dua yakni BSA Lightning Clubman 1965 dan BSA twin Golden Flash," ujarnya.

"Selain itu ada motor BMW R50 milik Koes Plus juga di sini (Museum Merpati), kalau yang spesial itu yang motor Nimbus buatan Denmark, spesial karena hanya diproduksi 1000 unit," imbuhnya.

Selain sepeda motor kuno, Handoko juga mulai mengkoleksi mobil kuno pada tahun 1995.

Diungkapkannya, hal itu karena tertular virus dari sang ayah yang seorang kolektor mobil.

Mengenai mobil yang dikoleksi mulai dari produksi tahun 1925 sampai tahun 1970, baik dari pabrikan negara Amerika, Eropa dan Jepang.

Disinggung mengenai koleksi sepeda motor kuno yang paling mahal, Handoko menyebut ada 3 unit Harley Davidson Knucklehead yang berasal Amerika dan Jerman.

Dikatakannya, bahwa dahulu ia membeli dengan harga Rp35 juta dan harga juga saat ini mencapai Rp3-4 miliar.

"Yang paling berkesan itu dari bapak saya yaitu (Mobil) Hudson Super Six tahun 1925. Setelah itu koleksi kacamata, arloji dan jam dinding kuno mulai tahun 2004, serta sepeda kayuh mulai tahun 2012. Kalau jumlah, sekarang ada sekitar 300 unit motor kuno, 500 unit sepeda dan 60 unit mobil," katanya.

Ditanya mengenai perawatan ratusan barang kuno itu, Handoko mengatakan telah memiliki beberapa karyawan yang khusus merawat barang kuno tersebut.

Mengenai cara perawatan diungkapkannya hanya dibersihkan saja, mengingat beberapa sepeda motor kuno miliknya jarang dikendarai di Jalan raya.

"Ada tiga orang yang melakukan perawatan, perawatannya seperti dibersihkan dan dilapi saja," katanya.

Lebih lanjut, karena telah memiliki banyak barang kuno, ia merasa bahwa sangat sayang apabila hanya dinikmatinya sendiri.

Selain itu Handoko ingin agar masyarakat tahu nilai sejarah sepeda motor kuno di Indonesia.

Karenanya ia memutuskan untuk membuat sebuah Museum bernama Museum Merpati.

Menurutnya, nama tersebut memiliki sebuah makna yaitu perdamaian dan kesetiaan.

Selain itu, ia menerapkan 3 prinsip dalam membuka Museum, adapun tiga prinsip itu adalah education, entertainment dan evolution.

Di mana dengan adanya Museum masyarakat bisa teredukasi, terhibur dan mengerti akan nilai sejarah pada setiap barang-barang kuno.

Diakuinya bahwa Museum tersebut batu dibuka secara umum mulai tahun ini, menurutnya dalam sehari ada 10 sampai 20 pengunjung Museum tersebut.

Adapun Museum Merpati buka mulai jam 9 pagi hingga jam 4 sore.

Disinggung mengenai biaya perawatan Museum perbulannya, ia menyebut sekitar Rp6 juta dan jumlah tersebut belum termasuk biaya yang lain-lain.

Koleksi mobil kuno di Museum Merpati. Selasa (11/9)
Koleksi mobil kuno di Museum Merpati. Selasa (11/9) (TRIBUNJOGJA.COM / Pradito Rida Pertana)

"Jadi harapannya kalau orang yang datang kesini dan sebelumnya tidak tahu apa-apa, setelah pulang jadi sedikit tahu. Dan yang sudah tahu jadi lebih tahu. Tidak tiketing, tapi hanya ganti uang perawatan saja Rp40 ribu dan sudah dapat minum sama ada pemandunya nanti," ujarnya.

Handoko melanjutkan, bahwa ia sama sekali belum memiliki niatan untuk menambah koleksi barang kunonya, hal itu karena ia berencana menata ulang Museumnya.

Mengingat tempatnya saat ini dirasa kurang luas untuk menyimpan ratusan barang kuno miliknya tersebut.

Mengenai rencana untuk menjual kendaraan kuno miliknya juga belum terpikir olehnya.

Karena dari awal ia memang telah berniat untuk mendirikan Museum tersebut, dan bukannya untuk memperjualbelikan barang-barang kuno miliknya.

Meski diakuinya tidak sedikit orang-orang yang berupaya menawar koleksi barang kuno miliknya, khususnya untuk sepeda motor kuno koleksinya.

"Tidak ada niat untuk diperjualbelikan, karena niatnya kan untuk bikin Museum, nanti kalau dijual bisa habis motor saya," ucapnya dilanjutkan gelak tawa.

Handoko menuturkan, bahwa dengan membuka Museum Merpati ia merasa dapat menyenangkan banyak orang.

Di mana dengan menyenangkan banyak orang akan menimbulkan kebahagian bagi dirinya.

Baca: Jadi Museum Terlengkap Se-Asia Tenggara, Museum Dirgantara Perluas Lahan Hingga 14 Hektare

Handoko mencontohkan, apabila dalam satu bulan ada 200 orang yang mengunjungi Museumnya, ia merasa bahwa dengan hal tersebut dapat menyenangkan hati ke-200 pengunjung itu.

"Dengan Museum ini kan bisa menyenangkan hati banyak orang, karena ada pepatah kalau cara untuk menyenangkan diri sendiri adalah dengan menyenangkan banyak orang. Jadi kalau mau bahagia gampang, bahagiakanlah orang lain, dan nanti akan mendapat kebahagiaan dari dalam, karena kebahagiaan sejati itu bahagia yang berasal dari dalam, bukan dari luar," pungkasnya. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved