Bank Permata Berikan Edukasi Keuangan Bagi Murid Sekolah Tuna Rungu

Permata Bank mengadakan kegiatan Cinta dan Empati dari Kita (CERITA Permata) bagi para murid di Sekolah Khusus Tuna Rungu Karnnamanohara

Bank Permata Berikan Edukasi Keuangan Bagi Murid Sekolah Tuna Rungu
TRIBUNJOGJA/YOSEF LEON PINSKER
Karyawan relawan Permata Bank memandu salah seorang siswi dalam kegiatan CSR CERITA di Sekolah Khusus Tuna Rungu Karnnamanohara, Jumat (5/10/2018) 

Laporan Calon Reporter Tribun Jogja Yosef Leon Pinsker

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) kepada masyarakat, Permata Bank mengadakan kegiatan Cinta dan Empati dari Kita (CERITA Permata) bagi para murid di Sekolah Khusus Tuna Rungu Karnnamanohara, Jumat (5/10/2018).

Kegiatan yang juga dilakukan serentak di 50 kota seluruh Indonesia ini, diwujudkan untuk mendukung Bulan Inklusi Keuangan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Tujuannya untuk meningkatkan dan memperluas akses keuangan dan literasi keuangan di kalangan masyarakat.

Baca: Laba Bersih Permata Bank Capai Rp800 Miliar

Direktur Retail Banking Permata Bank, Djumairah Tenteram menjelaskan, kegiatan ini merupakan yang ketiga kalinya dilakukan oleh Permata Bank.

Dalam pelaksanaannya, CERITA akan memberikan edukasi literasi keuangan kepada anak-anak usia sekolah, para guru, dan juga komunitas disabilitas.

"Kegiatan ini setidaknya melibatkan seribu karyawan relawan sebagai penggerak utama yang akan memberikan edukasi dengan menggunakan modul finansial yang telah disesuaikan dengan kebutuhan dan tingkatan usia para peserta," jelasnya.

Lewat kesempatan ini, pihaknya juga ingin mengajak anak-anak untuk dapat membangun budaya menabung sejak usia dini,

karena dengan belajar cara mengelola keuangan akan dapat menciptakan masa depan yang lebih baik.

Kepala Sub Bagian Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK DIY, Asteria Dantika, menyambut baik inisiatif yang dilakukan oleh Permata Bank dalam menyelenggarakan kegiatan tersebut sebagai bentuk dukungan terhadap literasi keuangan.

Ia menyebut, bahwa saat ini perkembangan literasi keuangan telah bertumbuh dengan amat pesat,

namun yang menjadi permasalahan masyarakat belum sepenuhnya paham produk dan layanan yang ditawarkan oleh lembaga keuangan, sehingga produk dan layanan tersebut belum dimanfaatkan secara optimal.

Baca: Grebeg Santri Akan Padati Jalan Malioboro hingga Titik Nol Kilometer Yogyakarta

Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) yang dilakukan oleh OJK pada 2016 lalu, didapatkan bahwa indeks literasi keuangan dan indeks inklusi keuangan mengalami peningkatan dibandingkan pada 2013 sebelumnya.

"Indeks literasi keuangan dari 21,84 persen pada 2013 menjadi 29,66 persen pada 2016, kemudian untuk indeks inklusi keuangan dari 59,74 persen pada 2013 menjadi 67,82 persen di 2016, sedangkan DIY sendiri ada diangka 38,5 persen peringkat tiga secara nasional," ujarnya.(tribunjogja.com)

Editor: ose
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved