Yogyakarta

Lembaga Konsumen Yogyakarta Himbau Masyarakat Tak Terjebak Kredit Online

Lembaga Konsumen Yogyakarta (LKY) menerima 15 pengaduan terkait kredit online, selama bulan September.

Lembaga Konsumen Yogyakarta Himbau Masyarakat Tak Terjebak Kredit Online
Daily Mail
ilustrasi 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Christi Mahatma Wardhani

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA- Kemajuan teknologi yang berkembang saat ini sangat memudahkan manusia.

Semua hal bisa diakses hanya dengan sentuhan tangan melalui smartphone.

Baca: Korban Aplikasi Kredit Online Ilegal : Diteror Penagih, Bunga Tinggi Hingga Tercekik Denda Harian

Bahkan saat ini ada untung berhutang pun, masyarakat bisa secara digital.

Meski demikian, rupanya kredit online perlu diwaspadai masyarakat.

Lembaga Konsumen Yogyakarta (LKY) menerima 15 pengaduan terkait kredit online, selama bulan September.

Koordinator Layanan dan Pengaduan Lembaga Konsumen Yogyakarta, Intan Nur Rahmawanti mengatakan kredit online menyasar pada masyarakat kelas menengah ke bawah.

"Jadi lewat playstore, nasabah itu bisa download saja. Biasanya membantu pinjaman sebesar Rp500 ribu hingga Rp5 Juta. Nasabah lalu memberikan data pribadi dan persetujuan secara elektronik untuk memenuhi segala syarakat dan kententuan," katanya pada Tribunjogja.com, Senin (1/10/2018).

Meski mudah, rupanya tidak semua aplikasi aman.

Ia menjelaskan ada sekitar 300 perusahaan, namun hanya sekitar 60 saja yang terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

"Nanti akan muncul pop up yang meminta persetujuan untuk memberikan semua data pribadi. Itu kan bahaya, jika disalahgunakan. Lalu ketika nasabah telat membayar, debitor akan menagih dengan ancaman, teror. Jumlah penagihan pun bisa naik 100 persen dari hutang sebelumnya," jelasnya.

Baca: Kredit Online Bunganya Sangat Tinggi, Bisa 273,75 Persen per Tahun

Untuk itu, ia mengimbau masyarakat untuk bijak dalam mengelola keuangan.

Masyarakat pun diminta untuk tidak konsumtif dalam memanfaatkan teknologi.

"Kalau sudah terjerat hutang, semua hal bisa dilakukan. kalau terjebak di kredit online ini kan juga bahaya. bayar bunga lebih, tidak ada perlindungan data. ya harus bijaksana mengelola keuangan," tutupnya. (*)

Penulis: Christi Mahatma Wardhani
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved