Kota Yogyakarta

KTB di Kota Yogyakarta Akan Terus Ditingkatkan

Simulasi dilakukan untuk melatih kepekaan masyarakat ketika menghadapi bencana yang sewaktu-waktu bisa mengancam.

KTB di Kota Yogyakarta Akan Terus Ditingkatkan
TRIBUNJOGJA.COM / Siti Umaiyah
Wakil Walikota Yogyakarta, dan BPBD Kota Yogyakarta saat berfoto bersama setelah melakukan simulasi di KTB Palihan pada Minggu (23/9/2018. 

TRIBUNJOGJA.COM - Simulasi mengenai ancaman bencana gempa bumi dan kebakaran Kampung Tanggap Bencana (KTB) Pilahan dilakukan oleh Pemerintah Kota Yogyakarta di halaman Kelurahan Rejowinangun pada Minggu (23/9/2018).

Hari Wahyudi selaku Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Yogyakarta mengungkapkan tujuan diadakannya simulasi ini untuk melatih kepekaan masyarakat ketika menghadapi bencana yang sewaktu-waktu bisa mengancam.

Baca: April 2019, Seluruh Penerbangan Internasional Dialihkan ke NYIA

Sebelumnya, dia mengatakan jika sebelumnya sudah diadakan 16 kali pertemuan dengan KTB Pilahan.

"Ini bagaimana caranya agar masyarakat siap menghadapi situasi kebencanaan di wilayahnya. Semoga tidak ada bencana, namun kita tetap harus siap bila sewaktu-waktu ada bencana," ungkapnya pada Tribunjogja.com.

Hari mengatakan, jika pada saat menghadapi bencana, yang terpenting masyarakat tidaklah panik.

Karena jika panik bisa mengurangi separuh energi dan menyebabkan bencana lebih luas.

Dia menjelaskan, jika ancaman bencana di satu tempat dengan tempat lainnya berbeda.

Maka simulasi akan disesuaikan dengan kondisi dan ancaman yang ada.

Di dalam pelatihan ini, setidaknya melibatkan berbagai pihak, seperti dari BPBD, Puskemas, Dinas Kebakaran, KTB Pilahan serta masyarakat secara umum.

"Kita harapkan, simulasi yang kita adakan hari ini bukan akhir kegiatan. Tapi awal dari masyarakat untuk siap menanggulangi bencana. Saat ini setidaknya sudah 98 KTB dan akan terus ditingkatkan," terangnya.

Heroe Poerwadi, selaku Wakil Walikota Yogyakarta mengungkapkan simulasi yang dilakukan di KTB Pilahan dimaksudkan agar masyarakat bisa siap dan sudah ada persiapan ketika menghadapi bencana.

"KTB sebagai upaya membiasakan kalau ada bencana sewaktu-waktu. Semisal nanti ada gempa, itu harus bagaimana masyarakat juga harus tahu. Sebagai antisipasi hal-hal yang tidak diinginkan," ungkapnya.

Baca: Trail Run 2018, Sensasi Berlari di Kawasan Bekas Tambang

Heroe mengatakan jika sebenarnya simulasi saja tidaklah cukup satu kali.

Oleh karenanya kegiatan seperti ini harus dilakukan secara terus-menerus.

"Ya untuk mengantisipasi kalau ada bencana. Untuk kampung Pilahan ini ancaman bencana ada gempa, kebakaran, banjir, maupun angin puting beliung. Setiap kampung memang tidak sama," katanya. (*)

Penulis: Siti Umaiyah
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved