Breaking News:

Tak Ingin Anak Lain Berkacamata, Siswa SD Ini Ciptakan Lampu Khusus

Sudah menggunakan kacamata saat masih di bangku sekolah dasar, memotivasinya menciptakan lampu yang ramah untuk mata.

Editor: iwanoganapriansyah
HAMZAH/KOMPAS.COM
Mahruz Ali Fawwaz menciptakan lampu ramah untuk mata 

TRIBUNJOGJA.COM - Sudah menggunakan kacamata saat masih di bangku sekolah dasar, tak membuat Mahruz Ali Fawwaz (11) berkecil hati. Hal ini justru memotivasinya menciptakan lampu ramah mata.

Siswa SD Muhammadiyah Manyar, Gresik, Jawa Timur ini mengaku tidak nyaman harus beraktivitas dengan bantuan kacamata.

"Saya sendiri sudah pakai kacamata sejak kelas dua, tidak nyaman sih. Makanya saya coba ciptakan lampu ini dengan harapan bisa membantu teman-teman atau anak-anak lain agar tidak sampai menggunakan kacamata seperti saya," kata Mahruz.

Demi mewujudkan keinginannya tersebut, Mahruz kemudian melakukan eksperimen. Mulai melakukan survei, menyebar kuisioner kepada rekan-rekannya satu sekolah, hingga merakit lampu yang nyaman bagi mata.

“Melihat hasil survei dan kuisioner, rata-rata mereka itu memang suka membaca, nonton televisi, serta mainan gadget. Kemudian saya baca artikel, minus mata itu kan disebabkan pencahayaan yang kurang, baik saat membaca maupun nonton televisi," ucap dia.

Akhirnya dengan dibantu guru pendamping, Muhammad Fadholi Aziz, siswa kelas 4 SD ini pun mulai merakit benda yang dinamakan "Superlamp", sebuah lampu yang dikombinasikan dengan sensor cahaya.

" Lampu ini akan bekerja bila pencahayaan yang ada di sekitar kita berkurang. Jadi begitu tidak ada cahaya atau cahaya di ruangan itu berkurang, maka secara otomatis lampu akan menyala. Saya buat otomatis dan tidak lagi harus tekan tombol on-off," ujar Mahruz.

Sebagai uji coba, Mahruz menggunakan lampu belajar yang dikombinasikan dengan sensor cahaya plus micro controller yang disambungkan dengan adaptor sebagai penghantar arus listrik.

Awalnya dia sempat pakai LDR (light dependent resistor), tetapi cahaya tidak stabil dan tidak sesuai dengan harapan.

“Kemudian saya ubah dengan menggunakan arduino uno (micro controller), alhamdulillah lampu sudah bisa stabil. Sementara masih pakai adaptor, tetapi kalau mau praktis lagi bisa kok pakai baterai dengan daya 6 volt," ucapnya.

Mahruz mengaku butuh waktu sekitar empat bulan untuk mewujudkan "Superlamp" sesuai harapan.

Terhitung mulai dari melakukan survei hingga mewujudkan lampu yang bisa digunakan.

“Paling lama dan sulit itu di bagian pengerjaan pemrograman, butuh waktu hampir dua bulan. Karena di situ saya harus menggabungkan perangkat demi perangkat serta menghitung daya supaya lampu bisa benar-benar bekerja maksimal saat digunakan," kata Mahruz.  (Hamzah Arfah)

.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Tak Ingin Anak-anak Lain Gunakan Kacamata, Anak SD Ini Ciptakan Lampu Ramah Mata..."

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved