Gunungkidul

Konservasi Sumber Mata Air, Sobat Air ADES Bangun Sumur Resapan di Nglanggeran

Konservasi Sumber Mata Air, Sobat Air ADES Bangun Sumur Resapan di Nglanggeran

Konservasi Sumber Mata Air, Sobat Air ADES Bangun Sumur Resapan di Nglanggeran
Tribun Jogja/ Noristera Pawestri
Sepuluh Sobat Air ADES turut berkontribusi dengan memperkuat sistem pengairan melalui perbaikan pengelolaan sumber mata air dan pembangunan sumur resapan di Desa Nglanggeran, Gunungkidul pada Jumat (21/9/2018). 

Laporan Reporter Tribun Jogja Noristera Pawestri

TRIBUNJOGJA.COM - Sobat Air ADES turut berkontribusi dengan memperkuat sistem pengairan melalui perbaikan pengelolaan sumber mata air dan pembangunan sumur resapan di Desa Nglanggeran, Gunungkidul pada Jumat (21/9/2018).

Mohamad Rezki Yunus, Marketing Manager Hydration, Coca-Cola Indonesia mengatakan, kegiatan ini merupakan aksi generasi muda yang bergerak bersama melakukan tindakan nyata untuk alam Indonesia khususnya konservasi air dan pengelolaan air yang berkelanjutan.

"Saya berharap nantinya Sobat Air ADES akan menjadi penggerak upaya konservasi dan pengelolaan air di daerah asal mereka," kata Rezki.

Serangkaian kegiatan konservasi dan pengelolaan air berkelanjutan yang dijalani Sobat Air ADES di Desa Nglanggeran, Gunungkidul telah melalui proses survei dan workshop bersama.

Dari hasil tinjau di lapangan, Sobat Air Ades di Desa Nglanggeran membangun 50 sumur resapan sebagai upaya konservasi air dan mengoptimalkan pemanfaatan sumber air supaya warga bisa mendapatkan air secara berkelanjutan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan irigasi. 

Communications Manager Yayasan Konservasi Alam Nusantara, Jaka Setia mengatakan, dalam kolaborasi ini, pihaknya turut membantu melakukan survei, workshop, hingga melakukan pendampingan dalam perbaikan dan pembangunan fasilitas.

"Hal ini untuk mewujudkan upaya konservasi air berkelanjutan," papar Jaka.

Sementara itu, Kepala Desa Nglanggeran, Gunungkidul, Senen mengatakan, dulu memang banyak sumber air di desanya, ada beberapa sumur, bisa dikatakan pada satu wilayah terdapat sekitar 500 titik sumber air.

Tapi seiring sengan berjalannya waktu, pada saat terjadinya gempa bumi pada 2006 silam, sumber air menjadi hilang atau pindah.

Halaman
12
Penulis: Noristera Pawestri
Editor: has
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved