Yogyakarta

Merenungkan Hidup Lewat Ritual Mubeng Beteng

Mubeng Beteng merupakan tradisi yang dilakukan setiap 1 Suro sesuai penanggalan kalender Jawa.

Merenungkan Hidup Lewat Ritual Mubeng Beteng
TRIBUNJOGJA.COM / Bramasto Adhy
Prosesi mubeng beteng diawali dari komplek Kraton Yogyakarta, Selasa (11/9/2018). 

Laporan Reporter Tribun Jogja Alexander Ermando

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Sejak pukul 20.00 WIB pada Selasa (11/09/2018), orang-orang sudah berdatangan ke Pelataran Keben, Keraton Yogyakarta.

Meski banyak orang, suasana di Keben terasa sangat tenang malam itu.

Sementara di sisi selatan Bangsal Ponconiti, para abdi dalem berpakaian peranakan Jawa duduk bersimpuh di karpet merah.

Mereka duduk menghadap pintu kediaman utama Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Mereka mengumandangkan kidung dalam bahasa Jawa, yang biasa disebut sebagai Macapat.

Kidung inilah yang menjadi penanda dibukanya ritual Mubeng Beteng.

Baca: Bule Austria Ikuti Ritual Lampah Budaya Mubeng Beteng

"Kidungnya itu tafsir dari Surat Al-Fatihah," jelas KRT Wijoyo Pamungkas, Carik Tepas Ndwara Pura dari Keraton Yogyakarta.

Mubeng Beteng merupakan tradisi yang dilakukan setiap 1 Suro sesuai penanggalan kalender Jawa.

Secara adat tradisi, masyarakat Jawa khususnya di lingkungan Kraton masih menggunakan kalender tersebut sebagai patokan.

Halaman
1234
Penulis: Alexander Aprita
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved