Yogyakarta

Dalam Kurun Waktu 8 Bulan, LO DIY Terima 5 Aduan Persoalan Sampah

Persoalan sampah ini sudah menjadi kajian yang endemik, hal ini karena tingkat berat permasalahan terletak pada tata kelola yang masih secara klasik

Dalam Kurun Waktu 8 Bulan, LO DIY Terima 5 Aduan Persoalan Sampah
TRIBUNJOGJA.COM / Noristera Pawestri
Ketua LO DIY, Suryawan Raharjo ketika ditemui di sela-sela acara Gelar Kasus Masa Depan Pengelolaaan Sampah DIY yang dihelat di Universitas Janabadra. 

Laporan Reporter Tribun Jogja Noristera Pawestri

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Ketua LO DIY, Suryawan Raharjo menyampaikan, dalam kurun waktu delapan bulan, Lembaga Ombudsman (LO) DIY telah menerima lima kasus pengaduan sampah.

Suryawan melanjutkan, persoalan sampah ini sudah menjadi kajian yang endemik, hal ini karena tingkat berat permasalahan terletak pada tata kelola yang masih secara klasik.

"Masyarakat kami sudah menyesuaikan dengan pola tapi penyesuaian masih perlu diperbaiki. Jadi beratnya pada kontinuitas," kata Suryawan pada Rabu (12/9/2018).

Baca: Fakuktas Teknik UJB Rintis Kerjasama Pengolahan Sampah dengan Zhejiang University of Technology

Ditambahkannya, berat atau ringan persoalan sampah ini dilihat dari kontinuitasnya, ketika kasus hampir sama muncul kembali, maka kasusnya tergolong endemik.

"Kalau kita bisa pilah itu pertama mengenai letak, posisi tempat sampah dari warga yang kemudian menganggu lingkungan karena preferensi pengambilan itu menjadi tidak oeriodik tidak sesuai dengan jadwal," paparnya.

Permasalahan yang kedua yakni pada perilaku tata kelola sampah di lokasi, kemudian permasalahan selanjutnya pada tempat pembuangan air.

Ia menilai, tempat pembuangan air ini yang menjadi permasalahan, karena tempat pembuangan air TPST Piyungan untuk wilayah Yogyakarta, Sleman, Bantul hampir tidak ada pengelolaaan secara mekanis.

"Jadi masih bersifat tradisional, datang kemudian timbun," tuturnya di sela-sela acara Gelar Kasus Masa Depan Pengelolaaan Sampah DIY yang dihelat di Universitas Janabadra.

Baca: Ilmuwan Luncurkan Alat Pembersih Sampah Plastik di Laut

Ia menyebutkan, setiap hati ada sekitar 200 ton sampah yang masuk dari Yogyakarta, Sleman dan Bantul.

Sebagai lembaga pengawas layanan publik, LO DIY melihat persoalan sampah ini menjadi permasalahan yang menganggu masyarakat ini pihaknya melihat fasilitas TPST Piyungan itu tidak sesuai yang diharapkan.

"Maka kami bersama dengan kalangan akademisi dan OPD mendiskusiakan hal ini untuk mencari solusi. Harapan kami ada rekomendasi yang nanti kami sampaikan kepada OPD terkait supaya bisa menjadi bahan membangun kebijakan pengelolaan sampah," ucapnya.

Baca: Pemkab Kulonprogo Manfaatkan Sampah Plastik Kresek untuk Campuran Aspal

Menurutnya, solusi dari persoalan sampah ini penyelesaiannya masih dilakukan secara konvensional, yakni dengan melakukan pengangkatan sampah secara periodik, baik dari lingkungan warga dari pasar atau kawasan lain yang memang berpotensi menimbulkan sampah supaya tidak menimbun.

"Kedua ada edukasi ditingkat masyarakat supaya bisa mengelola sampah dengan baik. Sehingga sampah tidak menumpuk pada tempat sampah. Pemahaman kita sekarang itu sampah dibuang, tapi belum pada tahap pemahaman sampah itu perlu dikelola di tata," kata dia.(TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: Noristera Pawestri
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved