Yogyakarta

Aksesbilitas Difabel di Pemkot Yogya Masih Minim

Organisasi Harapan Nusantara Indonesia melakukan survei terkait aksesibilitas penyandang disabilitas di Kompleks Balaikota Yogyakarta.

Aksesbilitas Difabel di Pemkot Yogya Masih Minim
TRIBUNJOGJA.COM / Kurniatul Hidayah
Jalan landai atau ram untuk penyandang disabilitas untuk kursi roda masih terlalu curam. Derajat kemiringannya sekitar 10 derajat dari normalnya 7 derajat. 

Butuh bantuan orang lain untuk menggeser keberadaan kursi tersebut sehingga bisa dilalui oleh penyandang disabilitas dengan kursi roda.

Survei tidak berhenti sampai di sana.

Sesampainya di depan pintu toilet, laju kursi roda kembali tersendat oleh keberadaan karpet.

Permukaan karpet membuat roda kursi rodanya menjadi berat dan ia kembali harus berjuang melewatinya.

Keberadaan tempat sampah yang berada di depan pintu toilet juga menjadi penghambat pengguna kursi roda untuk bisa masuk hingga akhirnya bisa mendorong pintu kamar mandi yang juga membutuhkan ektra tenaga bagi mereka.

Koordinator Program Advokasi Sistem Layanan Alat Bantu Ohana Indonesia, Nala Cinde Lintangsae menjelaskan survei yang mereka lakukan dalam melihat implementasi city for all atau kota yang bisa dihuni oleh semua pihak, tak terkecuali kaum difabel.

"Kita ingin melaukan survey aksesibilitas pelayanan publik. Hari ini (kemarin,red) kita simulasi juga dengan PU, Dosen Teknik Sipil UGM, pimpinan OHANA indonesia, dan Dosen ITS," tuturnya.

Nala mengatakan bahwa ada dua titik yang dijadikan tempat survey, yakni di Pemkot Yogyakarta dan Malioboro. Pemilihan tempat di Pemkot, lanjutnya, yang berhubungan dengan pelayanan publik.

Mulai dari Bappeda, Dinzin, dan Disdukcapil.

"Sudah ada akses untuk difabel, tapi ramnya terlalu landai. Ram di Dinzin masih terlalu curam. Standarnya 7 derajat, tapi ini sekitar 10 derajat," tambahnya.

Halaman
123
Penulis: kur
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved