Pendidikan

Wisudawan UAJY Junjung Pancasila sebagai Perekat Keberagaman

Sampai dengan wisuda kali ini UAJY telah meluluskan sebanyak 42.963 sarjana dengan rincian 40.788 sarjana strata satu dan 2.175 sarjana strata dua.

Penulis: Santo Ari | Editor: Gaya Lufityanti
internet
logo UAJY 

TRIBUNJOGJA.COM - Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) kembali menggelar wisuda di Auditorium Kampus 2 Gedung Thomas Aquinas, Babarsari.

Dalam Wisuda Periode IV Tahun Akademik 2017/2018 pada Sabtu, (1/9/2018) ini, UAJY meluluskan 802 sarjana dengan rincian 772 sarjana strata satu dan 30 sarjana strata dua (magister).

Baca: Dies Natalis ke-53, UAJY Gelar Lomba Baris Berbaris

Jumlah wisudawan dengan predikat cumlaude sebanyak 57 orang.

Sampai dengan wisuda kali ini UAJY telah meluluskan sebanyak 42.963 sarjana dengan rincian 40.788 sarjana strata satu dan 2.175 sarjana strata dua (magister).

Rektor UAJY, Dr Gregorius Sri Nurhartanto,dalam wisuda kali ini mencermati tentang tahun politik 2019 di mana akan ada pemillihan legislatif dan pemillihan presiden.

Gejala pembelahan sosial mewujud sebagai dampak buasnya kontestasi kekuasaan.

Intimidasi, persekusi, di. skriminasi, dan bentuk-bentuk lain ekspresi kebencian semakin mudah didapati di antara kelompok-kelompok berbeda dalam masyarakat.

Keberagaman menjadi sulit diterima dan perbedaan menjadi hambatan besar dalam komunikasi sosial.

"Kita bisa merasakan polarisasi politik yang cukup tajam pasca-pilpres 2014 dan Pilkada DKI Jakarta 2017. Hal ini dapat menjadi bahan bakar untuk membangkitkan gelombang populisme baru yang berbasis politik identitas di daerah-daerah di seluruh Indonesia, yang tidak mustahil daya ledaknya akan semakin dahsyat," ucapnya.

Baca: Dosen UAJY Kembangkan Web Kampung Wisata Rejowinangun dan Pakualaman

Pancasila bisa menjadi suatu sumber kebenaran universal yang dapat diterima setiap bangsa.

Peranan Pancasila sebagai ideologi di tengah-tengah hancurnya ideologi-ideologi besar merupakan sebuah upaya yang sangat strategis untuk revitalisasi Pancasila sebagai suatu ideologi besar yang bisa menjadi ideologi alternatif di level dunia.

"Pemilu bukan untuk memilih pemimpin yang terbaik, namun untuk mencegah agar yang jahat tidak berkuasa," jelasnya.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved