Seleb

Magnitudo Sisipkan Unsur Budaya di Setiap Penampilan

Kelompok musik bergenre Fusion Jazz asal Yogyakarta, Magnitudo, sukses menyabet juara 1 dalam kompetisi MLD Jazz Wanted 2018.

Magnitudo Sisipkan Unsur Budaya di Setiap Penampilan
Dok Pri
Kelompok musik bergenre Fusion Jazz asal Yogyakarta, Magnitudo, saat tampil dalam acara MLDspot Jazz Trafic yang dihelat di Grand City Convention and Exhibition Surabaya beberapa waktu yang lalu. 

Laporan Reporter Tribun Jogja Noristera Pawestri

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Kelompok musik bergenre Fusion Jazz asal Yogyakarta, Magnitudo, sukses menyabet juara 1 dalam kompetisi MLD Jazz Wanted 2018.

Band yang digawangi oleh Nina pada vokal, saron dan bonang, Andreas Ivan Jensen pada drum,  elektrik percusion, Sutan Harahap pada bass, Jim Matrutty gitar dan Milky Manuhutu di keyboard tersebut memenangkan kompetisi yang dihelat di Grand City Convention and Exhibition Surabaya beberapa waktu yang lalu.

Berbekal dengan perpaduan musik fusion dan jazz, magnitudo berhasil memikat para juri dalam kompetisi tahunan tersebut.

Yang unik dari Magnitudo ini tidak hanya memanfaatkan alat musik elektrik yang lekat dengan imej genre fusion, namun juga memberikan sentuhan suara musik etnik yang berasal dari alat musik tradisional.

Baca: Tampilkan Lagu Baru Perdana di Prambanan Jazz 2018, Glenn Fredly Berikan Pesan ke Penonton

Sang Vokalis Magnitudo, Nina menuturkan alasan melibatkan unsur tradisional dikarenakan latar belakang personil yang beragam dan ingin membawa pesan persatuan pada setiap penampilan mereka.

"Tiap personil Magnitudo berasal dari berbagai daerah dan suku berbeda. Kami memasukkan alat tradisional dan sound tradisional pada musik fusion. Kami juga menggunakan atribut dari berbagai daerah dalam tiap perfomance, karena kami ingin memasukkan unsur budaya disetiap performance," ujarnya pada Rabu (29/8/2018).

Unsur budaya ini juga terlihat dari penampilan Sang Vokalis yang selalu memainkan alat musik gamelan saron ataupun bonang dalam setiap penampilannya.

"Sewaktu tampil di Pekalogan kemarin, begitu masuk musik saronnya, penonton langsung histeris. Lagu apapun kalo dimasukin budayanya semakin indah," lanjutnya kepada Tribunjogja.com.

Baca: Tampil Perdana di Prambanan Jazz, Gigi Aransemen Ulang Empat Lagu Andalan

Dengan mengawinkan unsur musik etnik dengan jazz, Magnitudo berharap agar anak-anak muda Indonesia secara umum dapat kembali menjadikan musik dan budaya bangsa sebagai tuan rumah di negeri sendiri.

Sementara itu, genre fusion dipilih karena dianggap dapat masuk dan diaransemen dengan aneka musik lainnya.

Dengan pemilihan genre fusion jazz membuat para personil lebih bebas dalam mengeksplorasi musik yang mereka kreasikan.

"Basic kami per personil memang suka dengan musik jazz, namun dangan musik  fusion ini kami merasa lebih bisa fleksibel untuk masuk dimana saja," terang dia.(TRIBUNJOGJA.COM)

 

Penulis: Noristera Pawestri
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved