Dolar Menguat Tak Dongkrak Ekonomi AS, Ekonomi Indonesia Malah Lebih Baik, Ini Penjelasannya

Fluktuasi nilai tukar rupiah belakangan ini patut dicermati. Agar bisa memahami situasi ini, berikut penjelasan dua pakar ekonomi dan investasi

Dolar Menguat Tak Dongkrak Ekonomi AS, Ekonomi Indonesia Malah Lebih Baik, Ini Penjelasannya
ist
Ilustrasi dolar 

Ini sangat terkait dengan keraguan investor asing terkait dengan polemik penurunan daya beli yang terjadi sejak tahun lalu.

Tetapi di obligasi justru terjadi inflow (uang masuk) dari investor asing hingga mencapai angka tertinggi Rp 880 triliun.

Ini terjadi setelah kenaikan peringkat (rating upgrade) terhadap surat utang negara. Namun mulai berubah sejak Januari setelah terjadi perubahan yield obligasi di AS.

Kemudian di April terjadi penurunan lagi akibat penurunan nilai tukar rupiah.

Investor menduga mendekati pemilu, kebijakan pemerintah akan cenderung populis dalam bentuk menahan subsidi energi padahal harga minyak dunia sedang naik.

Di masa lalu, kebijakan populis ini cenderung membuat rupiah melemah.

Jadi secara umum investor saham meragukan kecepatan pemulihan ekonomi, dan kembali melemah karena ada risiko nilai tukar rupiah.

Pelemahan nilai tukar rupiah ini karena ada rotasi aset para investor yang diduga dipindah ke negara lain.

Bagaimana sebaiknya kebijakan pemerintah mengatasi harga minyak?

Ujian bagi pemerintah sekarang ialah harus tanggap mengantisipasi harga minyak karena ini berkorelasi dengan defisit neraca minyak.

Pemerintah harus mempercepat reformasi di sektor energi dan transportasi.

Kita harus mendorong teknologi dan sistem transportasi yang tidak tergantung pada minyak yang mempengaruhi pergerakan rupiah.

Forecast consensus Bloomberg di akhir 2018, rupiah kembali menguat karena pelemahan rupiah sekarang terkait dengan musim emiten menyiapkan cash dividend untuk investor asing.

Seperti Telkom harus membayar dividen kepada Singtel selaku pemegang saham terbesar Telkomsel.

Penjelasan lengkap, termasuk pengaturan lalu lintas devisa, baca di blog HaloMoney.co.id.

///

Arif Budimanta  (Wakil Ketua Komisi Ekonomi dan Industri Indonesia/KEIN)

Rupiah terus melemah, apakah fundamental ekonomi kita sedang dalam trend negatif?

Dari sisi neraca, posisi defisit neraca keuangan kita relatif lebih baik dalam tiga tahun terakhir. Dari sisi fundamental juga bukan suatu masalah.

Maksud saya track ekonomi kita mengarah lebih baik.

Memang tantangan kita dalam membuat current account surplus adalah dalam primary income, jasa, dan neraca perdagangan.

Momentum menguatnya dolar AS ini sebenarnya sangat baik sekali untuk meningkatkan daya saing ekspor kita.

Dengan tren kenaikan suku bunga Amerika Serikat secara bertahap, karena ekonominya membaik, dalam konteks ini kita harus melihat sebagai sebuah peluang.

Sebab Amerika adalah salah satu mitra dagang penting Indonesia sehingga diplomasi perdagangan kita ke Amerika harus kita perkuat.

Misalnya sawit. Kita harus bisa ekspor sawit ke AS dan mengatakan minyak sawit kita adalah renewable resources.

Ini paling penting sehingga kuota kita lebih bagus dan hambatan produk kita ke AS lebih mudah dan longgar.

Mengapa sektor jasa sejak dulu sampai sekarang selalu defisit?

Sektor yang selalu menjadi faktor pengurang dalam current account memang adalah jasa. Ini adalah PR lama kita sejak dulu.

Sekarang pemerintah sedang bangun infrastruktur, pelabuhan, itu sebenarnya untuk menekan agar neraca jasa kita bisa lebih baik.

Misalnya di sektor jasa ini adalah pelayaran dari luar negeri sehingga butuh dolar.

Ini terjadi dari dulu sampai sekarang sehingga kebutuhan dolar di dalam negeri cukup tinggi untuk membayar jasa perusahaan asing yang jasanya digunakan untuk perdagangan internasional.

Ini yang harus dikurangi.

Menurut pandangan kami, kita harus memanfaatkan kebijakan yang ada di dunia seperti One Belt One Road (OBOR) disatukan dengan poros maritim Indonesia.

Ini bisa mengurangi pembayaran dolar di sektor jasa.

Dari dulu jasa dalam negeri belum siap juga ya untuk menopang perdagangan internasional?

Tidak selalu karena bukan masalah siap atau tidak siap perusahaan dalam negeri, tapi pelaku usaha selalu melihat dari sisi ekonomisnya.

Misalnya dari sisi pelayaran, belum tentu perusahaan dalam negeri lebih murah dari perusahaan pelayaran global yang melayani perdagangan antar negara.

Di sinilah diplomasi perdagangan kita harus bergerak untuk menekan defisit di sektor jasa dalam current account.

Misalnya kita memperkuat pelabuhan yang paling dekat dengan jalur OBOR atau jalur perdagangan dengan 64 negara yang dimotori China.

Apakah Priok atau di Kalimantan dan Sulawesi? Sehingga pemerintah akan memprioritaskan industri yang ada di sekitar pelabuhan tersebut.

Neraca perdagangan kita dengan China masih negatif sehingga OBOR harus dimanfaatkan untuk mempersempit defisit neraca perdangan.

Bahkan seharusnya bisa seimbang, tidak defisit lagi. Dan China kita tahu juga membawa uang mereka.

Tidak harus membangun di Jawa dalam konteks OBOR ini, mengapa tidak di luar Jawa yang dekat dengan jalur OBOR. (Bambang Priyo Jatmiko)

.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Rupiah Terus Melemah, Simak Penjelasan Dua Ekonom Ini"

Editor: iwanoganapriansyah
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved