Pendidikan

UGM Menggelar Kongres Pancasila X

Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan Kongres Pancasila X, Kamis (23/8/2018).

UGM Menggelar Kongres Pancasila X
Ist
Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan Kongres Pancasila X, Kamis (23/8/2018). 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Santo Ari

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan Kongres Pancasila X, Kamis (23/8/2018).

Rektor UGM, Panut Mulyono mengatakan bahwa Kongres Pancasila sudah menjadi ikon bagi Universitas Gadjah Mada, sebagai Kampus Perjuangan, Kampus Nasional, Kampus Pancasila, Kampus Kerakyatan, dan Kampus Pusat Kebudayaan.

Panut mengatakan tema yang diangkat dalam Kongres X ini yakni "Pancasila Ideologi Pemersatu Bangsa dan Dunia" mengingatkan pada peristiwa bersejarah 30 September 1960 dalam Sidang Umum PBB di New York ketika Bung Karno berpidato dengan judul to Build a New World.

Dalam pidato yang mendapat sambutan luar biasa dari para peserta sidang itu, Bung Karno menawarkan Pancasila sebagai dasar untuk membangun suatu tatanan (peradaban) dunia baru.

Baca: Bulan Pancasila: Gotong Royong Inti Ajaran Ideologi Pancasila

"Gagasan Bung Karno tersebut, kiranya hingga saat ini masih relevan di tengah situasi beberapa belahan dunia yang masih dilanda ketegangan, konflik, dan peperangan," ucapnya.

Selain menjalankan misi ke luar negeri, yaitu ikut serta melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, panitia juga menyadari bahwa secara internal di dalam negeri, Indonesia masih memiliki banyak pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan dalam rangka mewujudkan cita negara yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

"Pancasila perlu dibudayakan dan dilembagakan sebagai pemersatu dan jati diri bangsa, di tengah bayang-bayang ancaman radikalisme, terorisme, dan penjajahan gaya baru," tambahnya.

Baca: Meriahkan Bulan Pancasila, Sultan dan Rakyat Bakal Tumpengan di Malioboro

Sementara itu, Ketua Panitia Kongres, Djagal Wiseso Marseno mengatakan dengan mempelajari hasil kajian beberapa lembaga seperti Lemhanas, Badan Litbang Kompas, dan sebagainya,  posisi Pancasila sebagai ideologi bangsa sedang mengalami tantangan baik dari sisi internal dan eksternal.

Dijabarkannya, dari sisi internal kajian Lemhanas menunjukan bahwa tujuh tahun terakhir ketahanan nasional Indonesia dalam gatra ideologi ada pada warna kuning, yang artinya kurang tangguh.

Sedangkan dari sisi eksternal, masuknya ideologi asing sudah pada tingkat mengkhawatirkan.

"Hal ini ditunjukkan oleh hasil kajian dikalangan mahasiswa bahwa 23,5 % setuju dengan ISIS, 16,8 % menyatakan tidak setuju Pancasila sebagai ideologi bangsa, 17,8 % setuju dengan bentuk negara khalifah, dan 23,4 % mahasiswa siap berjihad untuk mendirikan negara khalifah," paparnya.

"Untuk itu panitia mengundang narasumber yang kompeten di bidangnya untuk melihat Pancasila sebagai sebuah ideologi yang universal, dinamis, inklusif, dan toleran sehingga dapat mempersatukan bangsa dan dunia," ucapnya.

Adapun narasumber yang ditunjuk memberi paparan tentang Pancasila adalah Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Mahfud MD, Anhar Gonggong dari Lemhannas dan masih banyak lainya.

Kongres kali ini dihadiri lebih dari 350 orang yang terdiri birokrat, akademisi, praktisi, mahasiswi dan tokoh masyarakat.(TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: nto
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved