Breaking News:

Ibadah Haji 2018

Penjelasan Lengkap Seputar Tradisi Mengunjungi Orang yang Baru Pulang dari Ibadah Haji

Dilansir dari akun Twitter resmi Kementerian Agama RI dilaporkan bahwa tenda di Arafah sudah kosong.

Penulis: Hanin Fitria | Editor: Muhammad Fatoni
KOMPASIANA
Ilustrasi Jamaah haji tawaf 

TRIBUNJOGJA.COM - Ibadah Haji 2018 akan segera berakhir dan jemaah haji asal Indonesia pun akan segera dipulangkan.

Dilansir dari akun Twitter resmi Kementerian Agama RI dilaporkan bahwa tenda di Arafah sudah kosong.

Tenda langsung dibersihkan dan akan dibongkar oleh petugas setempat.

"Tenda di Arafah sudah kosong dari jemaah haji Indonesia langsung dibersihkan petugas. Tenda pun akan dibongkar sampai ketemu musim haji tahun depan," tulis akun resmi Kemenag RI seperti yang dikutip Tribunjogja.com melalui Twitter, Senin (20/8/2018).

Sebelum dipulangkan jemaah haji juga diimbau oleh Kemenag RI untuk segera membayarkan dam.

Jika ingin melakukan transaksi yang lebih nyaman dan transparan, jemaah diimbau membayar melalui kantor pos ataupun bank Al Rajhi.

Dam yang perlu dibayarkan oleh jemaah haji adalah sebesar 475 riyal (atau sekitar Rp 1.846.777).

Menurut Kemenag RI, loket pembayaran dam tersedia beberapa loket di sekitar Masjidil Haram, salah satunya di depan terminal Syieb Amir dan Tower Zamzam.

Setelah pulang ke tanah air, ternyata tradisi serangkaian ibadah haji sebagian jemaah belum berakhir.

Di Indonesia sendiri terdapat tradisi unik untuk menyambut kepulangan jemaah haji ke tanah air.

Saat jemaah haji tiba di rumah, beberapa saudara, tetangaa dan bahkan teman akan mengunjunginya.

Tradisi mengunjungi orang yang baru pulang haji merupakan tradisi turun temurun yang sudah ada.

Kebiasan bersilaturahmi kepada orang yang baru pulang dari Tanah Suci setelah menunaikan haji sudah menjadi hal umum.

Biasanya banyak orang yang bersilaturahmi kepada orang yang baru pulang dari berhaji meminta didoakan agar diampuni dosa-dosanya.

Selain itu juga meminta didoakan agar bisa juga pergi ke Tanah Suci untuk berhaji.

Praktik tradisi tersebut bukanlah tak berdasar, dikutip Tribunjogja.com melalui Nu Online berikut penjelasan lengkapnya :

Dalam kitab Hasyiyah Qaliyubi yang ditulis oleh Syihabuddin al-Qaliyubi salah satu ulama kenamaan dari madzhab syafi’i, terdapat keterangan bahwa bagi orang yang berhaji dianjurkan mendoakan atau memintakan ampunan kepada orang yang tidak berhaji meskipun orang tersebut tidak memintanya.

Begitu sebaliknya orang yang tidak berhaji disunahkan untuk meminta didoakan agar dosanya diampuni.

Menurutnya, para ulama menyebutkan bahwa waktunya sampai empat puluh hari. Empat puluh hari ini dihitung sejak kedatangannya.

وَيُنْدَبُ لِلْحَاجِّ الدُّعَاءُ لِغَيْرِهِ بِالْمَغْفِرَةِ وَإِنْ لَمْ يَسْأَلْ وَلِغَيْرِهِ سُؤَالُ الدُّعَاءِ مِنْهُ بِهَا وَذَكَرُوا أَنَّهُ أَيْ الدُّعَاءَ يَمْتَدُّ أَرْبَعِينَ يَوْمًا مِنْ قُدُومِهِ

“Dan disunahkan bagi orang yang berhaji untuk mendo’akan kepada orang (yang tidak berhaji) dengan ampunan meskipun orang tersebut tidak meminta. Dan bagi orang yang tidak berhaji hendaknya meminta dido’akan oleh dia. Para ulama menyebutkan bahwa do’a tersebut sampai empat puluh hari dari kedatangannya” (Syihabuddin al-Qaliyubi, Hasyiyah Qaliyubi ‘ala Syarhi Jalaliddin al-Mahali, Bairut-Dar al-Fikr, 1419 H/1998 M, juz, II, hlm. 190). (*)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved