Yogyakarta

Masyarakat Yogya Masih Kurang Pedulikan Higienitas Daging Kurban dan Sanitasi

Selama ini penyembelihan hewan kurban di Yogyakarta kurang memenuhi persyaratan, dalam segi higienitas.

Masyarakat Yogya Masih Kurang Pedulikan Higienitas Daging Kurban dan Sanitasi
TRIBUNJOGJA.COM / Suluh Pamungkas
Berita Kota Yogya 

TRIBUNJOGJA.COM - Meski ketersediaan, atau stok hewan kurban dipastikan aman, Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) DIY masih menyoroti masalah teknik pemotongan ternak, serta kepedulian masyarakat terhadap higienitas daging dan sanitasi.

Anggota TPID DIY, Sugeng Purwanto, mengatakan bahwa berdasarkan monitoring pihaknya, selama ini, di Yogyakarta masih dijumpai tempat pemotongan, atau penyembelihan hewan kurban, yang kurang memenuhi persyaratan, dalam segi higienitas.

Baca: Sapi Kurban dari Jokowi Seharga Rp 67 Juta Diberi Nama Bejo

Menurutnya, hal tersebut sedikit banyak disebabkan oleh minimnya pengetahuan dan kepedulian terhadap penanganan dan keamanan pangan hewani, atau daging.

Dalam artian, masyarakat tidak menyadari kalau yang dilakukannya adalah kurang tepat.

"Misalnya, ada alas kaki, atau sandal, yang masuk di area penanganan daging. Lalu, menggunakan daun sebagai alas daging dan menangani daging sambil merokok," katanya.

"Kemudian, yang tidak kalah bahaya, menggunakan plastik kresek hitam sebagai tempat daging yang akan dibagikan. Padahal, kresek hitam itu kan asalnya dari residu. Hal-hal semacam ini mungkin kurang dipahami masyarakat," tambah Sugeng.

Di samping itu, pihaknya juga menyoroti masalah penanganan limbah penyembelihan hewan kurban, yang belum dilakukan secara benar.

Sebab, masih banyak masyarakat yang membuang isi jerohan, langsung ke sungai, atau selokan.

"Padahal, sebenarnya, kalau itu ditimbun, berpotensi menjadi pupuk. Tapi, kesadaran masyarakat memang masih kurang. Perlu sosialisasi yang lebih masif, bahkan kadang-kadang harus dipaksa, agar terpaksa dan terbiasa," ucapnya.

Baca: UGM Kerahkan 375 Mahasiswa untuk Periksa Hewan Kurban di 7000 Lokasi

Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian DIY, Sunarto menambahkan, untuk pengelolaan limbah tersebut, masyarakat diharapkan membuat septictank sebagai pusat pembuangan.

Selain membuat lingkungan bersih, bau tak sedap pun bisa diminimalisir.

"Tapi, memang harus ada aliran air yang cukup, kedalamannya sekitar 2,5 meter. Itu sudah kami praktekkan. Dalam kurun waktu tidak sampai satu tahun, itu sudah jadi tanah lagi, dan kalau diambil bisa dijadikan pupuk," pungkasnya. (*) 

Penulis: aka
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved