Sleman

Disperindag Sleman Dorong Masyarakat Beli Batik yang Sesungguhnya

Masyarakat haruslah jeli dalam membedakan mana yang disebut batik yang sesungguhnya dan mana yang print.

Disperindag Sleman Dorong Masyarakat Beli Batik yang Sesungguhnya
TRIBUNJOGJA.COM / Siti Umaiyah
Disperindag Sleman saat melakukan jumpa pers berkenaan dengan gelaran Gebyar Batik Sleman, Senin (20/8/2018) 

TRIBUNJOGJA.COM – Saat ini di Sleman kurang lebih terdapat 500 pengrajin batik dengan ciri khasnya, yakni batik Parijotho.

Hal tersebut diungkapkan oleh Tri Endah Yitnani selaku Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Sleman di Pawon Samar, The Alana Hotel, Mlati, Sleman pada Senin (20/8/2018).

Endah menegaskan masyarakat haruslah jeli dalam membedakan mana yang disebut batik yang sesungguhnya dan mana yang print.

Baca: Pemkab Sleman Akan Gelar Gebyar Batik

Yang mana saat ini juga banyak kain motif batik yang mirip dengan batik yang sesungguhnya.

“Masyarakat akan lebih kita edukasi mana batik yang sesungguhnya mana yang kain motif batik. Kita harus bisa bertanggungjawab untuk selalu mengembangkan tujuh kriteria yang ditetapkan oleh World Craft Council (WCC),” terangnya.

Ketujuh kriteria tersebut antara lain nilai historis, orisinalitas, regenerasi, nilai ekonomi, ramah lingkungan, mempunyai reputasi internasional dan mempunyai persebaran luas.

Endah juga menyebutkan, batik ini tidak hanya kultur saja yang harus dipertahankan, namun juga nilai komersial di dalamnya harus didorong. Yang mana apabila nilai komersial ini bisa semakin baik, maka hal tersebut juga akan menjadi media untuk mengeleminasi kemiskinan.

“Batik merupakan hasil budaya kita, tapi nilai komersialnya juga harus senantiasa didorong. Kita harap semakin banyak orang yang memproduksi batik, sehingga mampu mengeleminasi kemiskinan, terutama di Sleman,” katanya.

Sementara itu, Tri Saktiyana, selaku Kepala Disperindag DIY mengungkapkan jika saat ini batik sudah diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya tidak benda dari Indonesia.

Hal tersebut berarti batik bukan hanya sekedar kain namun juga ada sistem sosial, ekonomi dan budaya dalam proses pembuatannya.

Tri menjelaskan, batik yang bisa disebut batik sesungguhnya memiliki kriteria tersendiri, yang mana dalam proses pembuatannya dilakukan dengan penutupan print dengan malam panas.

“Kalau cara pembuatannya tidak dilakukan dengan penutupan dengan malam panas, itu bukan batik. Teknik pembuatannya bisa dengan cap maupun canting. Kalau soal harga itu bukan patokan batik sesungguhnya atau print,” terangnya.

Baca: Gebyar Batik Sleman 2018, Upaya Pertahankan Predikat Kota Batik Dunia

Tri mengungkapkan, untuk membedakan batik sesungguhnya tidak selalu berpatok pada harga yang tinggi.

Yang mana batik sesungguhnya juga bisa saja dihargai mulai dari Rp 60 ribu.

“Harga bukan ukuran itu batik sungguhan atau bukan. Malahan ada kain motif batik yang cara pembuatannya diprint harganya sampai 600 ribu. Kita disini ingin edukasi masyarakat bagaimana batik yang sesungguhnya itu. Batik merupakan kain yang bisa bercerita dan berdoa,” terangnya. (*)

Penulis: Siti Umaiyah
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved