Bisnis
Sentimen Negatif Krisis Turki Diproyeksi Masih Berlanjut
Pelemahan mayoritas bursa saham dipicu kekhawatiran investor terhadap krisis keuangan di Turki.
Penulis: Victor Mahrizal | Editor: Gaya Lufityanti
Laporan Reporter Tribun Jogja, Victor Mahrizal
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Di tengah maraknya sentimen negatif yang beredar di pasar, indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin, (13/8/2018) ditutup anjlok 215,92 poin atau 3,55% menjadi 5.861,24.
Sedangkan kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 bergerak turun 39,85 poin atau 4,14% menjadi 923,22.
Baca: Begini Pandangan Asosiasi Pelaku Usaha terhadap Pelemahan Rupiah
"Berbagai faktor menjadi pemicu jatuhnya IHSG hari ini, mulai dari domestik hingga eksternal," kata Branch Manager Danareksa Sekuritas Yahuda Nawa Yanukrisna kepada Tribunjogja.com, Senin (13/8/2018).
Dari eksternal, ia mengemukakan, bursa saham eksternal yang melemah membuat investor di dalam negeri cenderung melakukan aksi lepas saham.
Pelemahan mayoritas bursa saham itu dipicu kekhawatiran investor terhadap krisis keuangan di Turki.
“Pelemahan mata uang Turki yang cukup dalam membuat investor kuatir kemampuan membayar hutangnya berkurang. Ada potensi risiko gagal bayar hutang,” imbuhnya.
Bahkan kondisi ekonomi Turki ini, membuat mata uang lira tertekan hingga jatuh ke titik terendah sejak 2001 silam pada akhir pekan lalu.
Tak ayal, nilai tukar rupiah tertekan hingga ke area Rp14.600 per dolar AS.
Menurut Yahuda untuk beberapa hari kedepan, kemungkinan krisis Turki masih kuat pengaruhnya ke IHSG sambil diikuti terus perkembangannya.
Sementara dari dalam negeri, investor merespon negatif data neraca transaksi berjalan Indonesia yang naik.
Baca: Awal Pekan, Nilai Tukar Rupiah Menguat
Defisit transaksi berjalan pada triwulan II 2018 tercatat US$ 8,0 miliar (3% PDB), lebih tinggi dibandingkan defisit triwulan sebelumnya sebesar US$ 5,7 miliar (2,2% PDB).
Sementara, frekuensi perdagangan saham pada hari ini, (13/8/2018) sebanyak 374.729 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 8,935 miliar lembar saham senilai Rp7,947 triliun.
Sebanyak 52 saham naik, 366 saham menurun, dan 88 saham tidak bergerak nilainya.
Sebagai pembanding bursa regional, di antaranya indeks Nikkei turun 440,65 poin (1,98%) ke 21.857,43, indeks Hang Seng melemah 430,04 poin (1,52%) ke 27.936,57, dan indeks Strait Times melemah 39,44 poin (1,20%) ke posisi 3.245,34. (tribunjogja.com)